Boyan In Memoriam

Masih Ada Sinar Mentari

300px-peta_pulau_bawean.pngJudul di atas adalah arti dari sebuah kata, yang berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu Bawean. Menurut legenda, sekitar tahun 1350 M sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Lautan Jawa, terombang-ambing selama beberapa hari, sampai akhirnya, mereka terdampar di sebuah pulau, tepat pada saat matahari terbit, pulau itulah yang kini dikenal sebagai pulau  Bawean. 

Peta Wilayah dan Wisata

180px-bawean1.jpgBawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa, sekitar 150 kilometer sebelah utara Pulau Jawa. Diameter Pulau Bawean kira-kira 12 kilometer dan jalan yang melingkari pulau ini kira-kira panjangnya 70 km dan bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam. Secara administratif, termasuk dalam wilayah Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Memiliki dua kota kecamatan terkemuka yaitu Sangkapura dan Tambak. Menurut Jacob Vredenbregt dalam Bawean dan Islam, sampai tahun 1743, Pulau Bawean  berada di bawah kekuasaan Madura dengan raja Madura yang terakhir, Tjakraningrat IV dari Bangkalan. Pada masa itu, VOC yang menduduki pulau tersebut, berkuasa melalui seorang prefet (kepala departemen). Di masa pemerintahan Inggris, pulau Bawean menjadi keasistenresidenan di bawah Surabaya. Kemudian digabung dengan afdeling Gresik dibawah seorang kontrolir. Lalu sejak 1920 sampai 1965 berubah menjadi kawedanan. Sejak 1965 pulau ini kemudian diperintah oleh dua camat dibawah pimpinan bupati Surabaya.Memang belum ada survey yang lebih mendetail, namun diperkirakan jumlah penduduknya sekitar 70.000 jiwa, kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai nelayan atau petani selain juga menjadi TKI di Singapura atau Malaysia. Etnis mayoritas penduduk Bawean adalah Suku Bawean (Boyan), diikuti oleh Suku Jawa, Madura dan suku-suku lain misalnya Bugis dan Mandailing. Bahasa pertuturan sehari-harinya adalah bahasa Bawean (boyan). Bukannya bahasa Madura seperti yang dimaklumkan sebelum ini. Suku Madura adalah suku pendatang di kepulauan Bawean.

Bawean memiliki atraksi pariwisata yang cukup menawan, terutama pantai-pantainya. Barisan pegunungannya juga tak kalah asri dan menarik, syahdan, ada sekitar 99 nama gunung di Bawean, mirip dengan jumlah Asmaulhusna. Ada juga sebuah danau yang terletak tepat di tengah-tengah pulau bernama Danau Kastoba. Alhamdulillah, fasilitasnya sekarang agak lebih mending dibandingkan dulu. Selain itu, pulau-pulau kecil lainnya juga tidak kalah menarik untuk di kunjungi. Contohnya Pulau Gili, Pulau Noko, atau Pulau Cena. Untuk ke pulau-pulau tersebut, pengunjung dapat menyewa perahu-perahu milik warga, dengan harga yang sepadan.

Di Bawean terdapat pula spesies rusa yang di dunia ini hanya ditemukan di Bawean, Bahasa Latin spesies ini adalah Axis Kuhli. Selain itu di pulau Bawean juga ditanam manggis, salak, buah merah, dan durian yang dikonsumsi oleh penduduknya. Puluhan spesies ikan laut juga terdapat di pantai pulau ini. Yang khas dari Bawean adalah batu onyx. Sejenis batu marmer. Batu ini dijadikan hiasan dan juga lantai. Selain itu juga ada “buah merah”. Ini berbeda dengan buah merah asli papua. Bentuknya bulat seperti apel. Memang ada yang seperti ini di Magetan tapi warnanya agak kuning.

Potret Budaya 

Di Singapura, penyebutan Bawean berubah menjadi Boyan. Sehingga kalau ada orang yang hendak berkunjung ke kampung Bawean, mereka akan mengatakan “awak nak pegi kampong Boyan.” Seperti yang disebutkan oleh Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si. dalam desertasinya –Orang Boyan Bawean:Perubahan Lokal dalam Transformasi Global—bahwa, Orang Bawean dikenal dengan dua sebutan yaitu orang Bawean atau orang Boyan. Sebutan orang Boyan biasanya digunakan di negara tujuan merantau (Singapura dan Malaysia), sedangkan sebutan orang Bawean dipakai di Pulau Bawean dan di wilayah Indonesia. Tidak ada sejarah tertulis yang menyebutkan asal-usul sebutan Boyan itu. Namun, ada yang mengungkapkan, sebutan itu muncul karena salah ucap, terutama orang Eropa dan Cina yang dulu mempekerjakan mereka di Singapura dan Malaysia.

Ada juga yang menyebut Bawean sebagai Pulau Putri, alasannya, karena banyak laki-laki muda yang merantau ke Pulau Jawa atau ke luar negeri. Logikanya begini, kalau para lelaki atau pemudanya banyak yang merantau ke luar negeri, berarti yang tersisa di pulau hanyalah para perempuan. Meski demikian, jangan pernah dibayangkan, jika ditinggal suaminya merantau para istri yang tidak terpenuhi kebutuhan batinnya tentu memiliki peluang untuk berselingkuh. Faktanya, perselingkuhan di Pulau Bawean sangat jarang terjadi. Kalaupun ada, hanya terjadi di daerah pelosok atau pegunungan bukan di daerah perkotaan. Jarangnya perselingkuhan ternyata karena adanya kontrol sosial dalam bentuk ‘gunjingan’ yang masih cukup kuat pengaruhnya. Perempuan yang ketahuan berselingkuh akan dibicarakan dan disampaikan dari mulut ke mulut oleh para tetangganya hingga yang bersangkutan merasa malu dan risih.Selain itu, orang Bawean juga dikenal gemar merantau. Komersialisasi kegiatan merantau ini dimulai ketika Bawean disinggahi kapal laut dari kongsi milik orang Cina yang dikelola oleh bangsawan Kemas dari Palembang. Kemas Haji Djamaludin bin Kemas yang ingin mengembangkan daya angkut kapalnya, meminjamkan modal kepada orang Bawean yang hendak merantau. Mereka membayar kembali pinjamannya setelah tiba di tempat tujuan dan telah memiliki pekerjaan. Sistem ini menarik banyak penduduk Bawean untuk merantau sehingga kapal yang sebelumnya mengangkut penumpang dan barang, berubah menjadi kapal penumpang. (Drajat Tri Kartono, 2004)

Masuknya Agama Islam

Menurut catatan sejarah yang berkembang selama ini, agama Islam masuk ke Bawean pada awal abad ke-16. Sumber catatan sejarah lainnya menyebutkan bahwa sebelum menetap di Pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim seorang ulama Islam asal Turki–pakar di bidang tata hukum pemerintahan—mab’uts atau utusan dari kekhilafahan Utsmaniyah sempat singgah terlebih dahulu di Pulau Bawean. Disebutkan kalau peristiwa ini terjadi sebelum abad ke-13 masehi. Catatan sejarah mana yang lebih benar, semoga saja akan segera terungkap.

Adalah Sayyid Maulana Umar Mas’ud¹–-salah seorang ulama dari garis keturunan Sunan Ampel—yang telah mengemban dakwah islamiyah ke Pulau Bawean. Dan berkat jasanya, agama Islam tersebar hingga ke seluruh pelosok Bawean. Sayyid Maulana Umar Mas’ud demikian gigih dalam memperjuangkan Islam, walaupun harus menghadapi pergulatan sosial yang sangat pelik dan beragam, nyatanya, beliau mampu menuntaskan secara gemilang, semua persoalan dan tantangan tersebut. Islam adalah warisan berharga yang telah berhasil dipersembahkan oleh Sayyid Maulana Umar Mas’ud, dengan pencapaian yang menakjubkan, laksana kisah Mush’ab bin Umair, duta dakwah Islam pertama yang diutus Rasulullah ke Madinah. Sehingga kiranya, tak seorangpun dapat menatap wajah Bawean di setiap seluk, lorong, dan penjurunya, kecuali Islam berkumandang di sana. Zaman telah beralih dan berganti wajah, era generasi awal sampai trah ke tujuh telah berlalu, Namun namanya tetap saja menebarkan keharuman yang seakan tak pernah pupus. Makamnya hingga kini menjadi tempat tujuan bagi para peziarah, baik dekat maupun jauh.

Dalam kisah legenda² dituliskan bahwa Sayyid Maulana Umar Mas’ud, berhasil mengalahkan Raja Babiliono yang kafir dan ahli sihir. Kisah perang tanding mereka digambarkan, tak ubahnya seperti kisah pertarungan antara Aji Saka dan Raja Kanibal, atau antara Arjuna dan Kresna dalam Bharatayudha yang bersifat heroik dan banyak dipenuhi dengan bumbu magis dan daya linuwih lainnya, terlepas dari percaya atau tidak.

Secara politis, pasca kekalahan Raja Babiliono, otomatis peran sentral kekuasaan sepenuhnya di kendalikan oleh Sayyid Maulana Umar Mas’ud. Dalam tataran kehidupan umum, wajar saja kalau orang menganggap bahwa aturan yang diterapkan untuk mengatur kehidupan rakyat kala itu adalah aturan kehidupan Islam (syariat).

Semoga di era ini, lahir Umar Mas’ud, Umar Mas’ud baru yang mampu meneruskan perjuangan menghidupkan kembali Islam, tidak hanya di bumi Bawean tetapi di seantero jagat. Islam rahmatan lil ’alamin. Waallahu a’lam bish showaab.

In Memoriam

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk hal lain kecuali hanya untuk mengenang Bawean, sebagai pulau dimana saya dilahirkan oleh ibu dengan bertaruh nyawa. Tempat dimana masa kecil yang ceria dengan nyanyian dan canda, atau gerak melompat menggapai langit, berlari-lari kecil, bergandengan-tangan, bertukar-pandang, menangis-tertawa, histeria saat suka cita atau saat nelangsa meggelayut dada, humoria saat kau pingkalkan aku dengan guyonmu, masa indah saat mata berbinar dan hati berbunga, atau karib kerabat, saudara dari satu wangsa, saat kau dukakan aku atau bahagiakan aku dengan senyummu, dan semua yang tak mungkin aku lukiskan dalam ruang sempit ini, menjadi bagian hidup yang tak akan terlupa, tetap di kenang dan terpatri di hati. Segala kerinduan, rasanya tercurah disini. Maafkan kalau aku tak dapat berkiprah dalam kancah bumimu. Karena fitrah takdir manusia yang tak selalu sama. Hanya doa dan harapanku, semoga Kau tetap menjadi pulau yang bersih dari segala kotoran sampah dunia, peradaban atau kemaksiatan serta tetaplah berwawasan iman dan tak terpengaruh oleh masuknya budaya–sampah–asing yang menghancurkan generasi.Saudaraku, Oreng Bhebhiyen, Jaga Bawean kita. Tancapkan panji-panji Al Liwa’ dan Ar Royah di setiap sudut dan penjurunya. Tetaplah bermartabat dalam Islam. Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. I Love You All. 

 
1. Menurut praduga saya pribadi, karena ada yang menyebut dengan nama awal Said, seperti yang tercatat di wikipedia Indonesia. Lebih indah, kita menyebutnya Sayyid, seperti nama-nama sebutan yang biasa dipakai dikalangan ulama-ulama Islam lainnya, demikian menurut saya. Kalau salah, pangaporana aja ya!
 
2. Selengkapnya baca Kisah Legenda Pulau Putri -–kira-kira judulnya seperti itu–Kisah yang di tulis oleh guru Bahasa Indonesia saya, saat masih duduk di bangku SMP, Zulfa Usman, tapi saya lupa tahunnya, mudah-mudahan sekarang sudah banyak mengalami revisi yang seperlunya, agar terasa lebih memikat dan menggigit, meneruskan apa yang pernah dikatakan oleh Yunan Helmy, sahabat saya waktu di SMP, SMA dan saat sama-sama ngangsuh kaweruh di UNESA. Untuk Pak Zulfa, salam ta’dzim, pengabdian memang tak mengenal kata pupus, Pak!
 
 
Khalid Wahyudin
 Alumni SMA Negeri 1 Sangkapura Angkatan 1991, Pateken, Kotakusuma

19 thoughts on “Boyan In Memoriam

  1. Alhamdulillah, saya dapat mengetahui tentang P. Bawean dari blog ini. Saya bersyukur mendapatkan tulisan ini langsung dari putra Bawean Sendiri. Ya, meski anda sekarang tidak lagi berdomisili disana. Selamat! moga blog ini, dapat menghadirkan banyak manfaat.

    Alhamdulillah, makasih banget atas kerawuhan jenengan di gubug mayaku ini. Moga-moga kita akan selalu dapat memanfaatkannya sebagai media dakwah dan pembelajaran.

  2. ok. bang udin hidup seni rupa 1994. sukses buak kakeh!

    Wow, Bang Tri, beremma kaberna cong? Puteranya dah berapa? Sulit untuk dapat melupakanmu, Bang Tri. Terlalu banyak kenangan baik yang telah kita ukir bersama tempo dulu. Ente, bagus, baye, nanang, agung, pras, aziz, purnadi, taufik kriwul, mbahe, dan teman seangkatan lainnya, adalah teman dan sahabat ane. Ok, Bravo SR Songopapat!

  3. selamat berjuang dijalanmu! Ternyata kita dapat berjumpa lagi dalam ruang yang ternyata tidak sempit. Setelah sekian lama kita lama tak bersua, dunia maya kembali membuka mata hatiku untuk lebih dekat lagi menghadap-NYA. Merapat, dan bersatu kembali. Hampir 8 tahun lamanya kesibukan telah menuntutku mengejar dunia yang selalu dahaga. kapan kita bersua lagi bersama rekan-rekan generasi 94. kamu ditulungagung? Salam buat anak istrimu. salam gurdes/abik slalu. tak kan terlupa kenangan di depan kantor pos Bangkalan!

    Alhamdulillah, Bang Tri, kita bertemu di ruang maya ini. Suer, ane terharu dengan kehadiran ente disini. Insyaallah, ane akan tetap tsiqoh dalam perjuangan sampai Allah menentukan jalan akhirnya. Kapan kita bisa bertemu lagi? ane pun tak bisa memberikan jawabannya. Tapi, Insyaallah kalau ada keinginan yang kuat, Allah akan memberikan seribu jalan kemudahan. Satu hal yang tak dapat ane lupakan khusus denganmu adalah saat-saat dulu kita saling bahu-membahu mencari tambahan rizki untuk biaya kuliah. Ah, Bang Tri, ane salut sama ente! Semoga Allah SWT selalu menciptakan jalan terang dan lapang untukmu. Bahagia di dunia dan juga di akhirat kelak, amin. Masih kuat dalam ingatan ane saat ente menawarkan kerjasama untuk membuat kartu lebaran dari lembaran hitam disket lawas itu. Dan ane setuju berangkat dengan ente karena ane tahu akan ketulusan ente. Ane kemasi barang, dan kita berangkat bareng ke Madura. Di teras Kantor Pos Bangkalan itu, kita hamparkan koran untuk menggelar dagangan kita. Hari pertama sedikit orang yang membeli, mereka tampak asyik melihat dan mengagumi hasil karya kita, namun susah untuk merogoh kocek mereka. Berikutnya, kita pindah di halaman depan mini market (entah apa namanya ane lupa) tapi tak sempat kita berdiri lama, tiba-tiba hujan tanpa permisi mengguyur kita, kita pun berlindung dari derasnya hujan di teras Mini Market yang terkenal di kotamu itu, kemudian kita mencoba keberuntungan baru dengan menggelar dagangan di teras Kantor Pos itu lagi. Alhamdulilah, hari itu dan hari-hari berikutnya dagangan kita abik gurdes, Bang Tri. Dan Akhirnya kita dapat fulus yang lumayan banyak untuk bekal hari raya. Semoga ente bersama keluarga selalu dalam kebahagian. Amien

  4. ASSALAMUALAIKUM…
    TERNYATA BAWEAN PUNYA SEJARAH JUGA YA! HE..HE…. RUSA YANG SELALU MENJADI ANDALANMU KETIKA KULIAH BUKANLAH SEBUAH CERITA YANG DIBESAR-BESARKAN SAJA. MASIH ADAKAH SAMPAI SAAT INI ATAU MALAH SUDAH PUNAH?
    PURNADI SAAT INI KUAJAK NGAJAR DI RUMAHKU SANGGAR LUKIS MAGENTA KALO HARI MINGGU PAGI, LUMAYAN BUAT BELI ROKOK. YA, KITA SIH KADANG MASIH KOMUNIKASI AMA SINYO,NANANG AGUNG, NADI, SIMON BEBERAPA BULAN YANG LALU AZIS NGINAP DI RUMAHKU 2 HARI. DIA SUDAH JADI JURAGAN AYAM POTONG, AYAMNYA NYAMPEK 10.000 LEBIH. BOSSLAH…DIA TINGGAL DIKEDIRI PERBATASAN TULUNGAGUNG, HUB AJA. DIA LAGI GAMANG DALAM HIDUP. MUNGKIN LAGI BERGELIMANG HARTA. MUNGKIN BUTUH SIRAMAN CINTA KASIHMU. BELUM NIKAH LAGI! SELAIN DIA YANG BELUM NIKAH ANDRE & PURNADI. aNAKKU SATU SUDAH TK A. SAMPAI KETEMU LAGI PADA PERJUMPAAN NYATA. SEBENARNYA 27 JAN ADA MANTENNYA FAJAR DI GALEK, SAYANG AKU GAK BISA KESANA SOALNYA AKU HARUS KE BALI. WOW.. KENANGAN MBAH-MBAHAN. KALO KE GALEK AKU KAN BISA MAMPIR KE TULUNGAGUNG. AKU SIH UDAH ADA RODA EMPAT MESKI UDAH TUA TAPI NYAMPEK SIH KE TULUNGAGUNG. WASSALAM

    Alhamdulillah, syukur keadaan teman-teman pada baik. Sukses untuk ente Bang Tri. Dari dulu ane menduga bahwa ente bakal jadi orang sukses. Insyaallah, Aziz nanti akan ane hubungi dan ane usahakan untuk menyiramnya secara baik biar tumbuhkembangnya tidak liar. Syukur, kalau ente bisa ngayomi teman-teman yang lain. Gimana warungnya Agung makin laris aja? Poernadi masih aktif berkarya? Ente juga? Gimana kelompok Kompilasi Empat masih tetap jalan atau ente berkompilasi dengan yang lain? Walau udah tua tapi bukan si jago mogok kan? Ane yakin meski udah tua tapi kekuatannya kayak banteng. Baik, lain kali disambung lagi. Salam untuk teman dan sahabat yang lain. wassalam.

  5. trims din atas komentar dan kata-katamu didunia maya ini. aku bukanlah apa-apa. tak ada yang dapat dibanggakan kecuali ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Apa yang kuperoleh selama ini terasa hampa saat kebahagian dunia tidak diimbangi oleh hubungan dengan-nya. Dalam keheningan sering terpikirkan olehku, betapa nikmatnya bila kita hidup dalam keseimbangan, nyaman, tentram, teduh. aku ingin terus belajar dan memaksakan diri untuk selalu dekat dengan-NYA. Misalkan seperti petani yang sholeh pagi pergi kesawah, siang pulang, sholat duhur , tidur siang, sore memasukkan ternak kekandang, bersenda gurau dengan keluarga, asik kayaknyas. hidup kayaknya nikmat. kompilasi 4? kalo sinyo masih diglobal art, andre jadi musisi cafe sampai kini(seni rupa jurusan musik, kalo topik kan tari…), poernadi aktif bereksperimen dengan pensil diatas kanvas, nanang asyik dengan aktifitasnya di giki dan mahardika, warung agung belum rame amat tapi udah menghasilkan riski yang halal. kayaknya aku gak jadi ke bali soale ombaknya lagi gede. kalo gak ada halangan aku ikut ke galek. moga aja bisa jumpa darat di sana.wassalam.

    Ok, Bang tri. Kita sama-sama berusaha untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini. Hidup menjadi bagian dari rahasia kegaiban yang Allah ciptakan. Kita tak memiliki tangan-tangan sakti untuk menyingkapnya. Yang kita mampu adalah berusaha melakukan yang terbaik sesuai dengan tuntunan syariat-Nya. Hidup tak melulu memuaskan napsu duniawi dengan mengumpulkan pundi-pundi harta sebanyak mungkin. Masih banyak yang harus dilakukan, dakwah, ibadah, menuntut ilmu, taat pada ortu, mendidik anak dan istri sebaik mungkin, amalan nafilah, dan banyak lagi. Terkadang masih banyak orang yang melihatnya sebelah mata. Fokus hidup hanya terpatri pada satu kata “harta”. Ah, sudahlah cukup tamsil-tamsil mengenai perilaku yang demikian. Sedikitpun harta tak akan mendatangkan kebahagiaan dengan kekosongan iman. Kita harus selalu bulatkan tekad untuk terus dekat dan taat. Terima kasih, wahai saudaraku. Mari kita berusaha bersama untuk memperbaiki kualitas amal kita di hadapan Allah, menerapkan syariah-Nya secara kaffah yang tak sekedar menyentuh ranah pribadi, namun juga pada sistem penegak negeri. Insyaallah, dengan izin Allah kita akan bertemu lagi. Akhodallahu bi yadika. Wassalam.

  6. Poernadi lagi dirumah nih.. lagi gak ada komentar katanya. yang pasti dia heran ngeliat kamu soalnya kamu kagak gaptek. ustad modern katanya. sebab waktu dulu masih kuliah tukang baliho sama nanang,agung dan aku. inget gak waktu jadi tukang balihonya topik pameran tunggal di lumajang. ha..ha…
    asiz katanya dari rumahmu? udah kamu kasih siraman? aku minggu ke galek kalo nyampek daerah tulungagung aku hub kamu. wassalam

    Alhamdulillah, teretan dari Lakarsantri mampir di gubukmayaku ini. Gimana mBah Poer apa mau terus melajang? Segera aja, ingat dunia sebentar lagi akan kiamat, he..he..mBah Poer dan Bang Tri yang lalu itu sudah jadi kenangan kita. Kenangan baik tak elok untuk dilupakan, bukan begitu? He..he..Bukankah dulu aku memang sengaja menyamar. Ya, menyamar yang kebablasan he..he..Beberapa hari lalu, Azis memang mampir ke rumah. Katanya sedang lagi tidak ada jam mengajar. Jadi mumpung ada waktu sekalian aja habis ngajar ia langsung tancap gas ke Tulungagung. Dan memang menurut sepengetangangku he..he…Aziz termasuk type cowok nekad, opo-opo bondone nekad. seperti juga pesen ente setelah ia tiba langsung aja ane siram hingga basah kuyub. Hasilnya lumayan, balik ke Kediri wajahnya langsung sumringah..ha..ha..ha…Ok, ane tunggu callingan ente. Wassalam.

  7. assallamuallaikum,wr.wb allo gmn kabar?aku sinyo yg dulu kmu gantiin ngajar di giki,selamat atas peluncuran situs blog pribadi sebagai bentuk informasi dan dakwah di dunia maya.Aku senang karena angkatan 94 bisa menyesuaikan era iptek yg semakin menggila…sekarang kesibukan apa aza,momongan udah brp,masih melukis surealis gaya ivan ta?ok aku mungkin cuma say hai bisa disambung lain kali,ntar ta bikin email lagi,yg dulu2 ilang,ok!hp ada 08155119049 ok friend,see yaaa…wassallamuallaikum wr.wb

    Waalaikum salam, Koko gimana kabarnya nih? Suwe ora ketemu ya? Hei, Sinyo bukankah seorang petani yang baik tak akan membiarkan setiap lahan yang subur kecuali menggarapnya. Ya, ane cuma berusaha sebisa ane. Mudah2an jadi wasilah bagi kemaslahatan bersama. Ane masih sangat suka Surrealis. Rasa sukar untuk berpindah ke lain hati. Ya, biarlah hati mengalir pada gaya yang seperti itu. Bukan mengalir pada aliran yang menyesatkan..he..he.. Tapi sementara ini ane memang belum kembali aktif di dunia rupa ini. Insyaalallah, lain waktu ane akan usahakan. Ok, shobat! lain kali ketemu lagi ya! Akhodallahu Bi yadika.

  8. selendang mustika? masih eksiskah? minggu kita ke galek. moga aja ada waktu tuk mencairkaN RASA RINDU YANG MENGKRISTAL.

    Sorry, pren! Selendang Mustikanya sekarang sudah jadi gombal mukiyo, he..he…RASA RINDU YANG MENGKRISTAL enaknya emang di cairin aja. Ayo kapan mau bikin blog? ane tunggu ye!

  9. ass..salam perkenalan. Melalui tulisan singkat ini dapat berharap berkenalan lebih rapat lagi..saya juga orang bawean, dan sekarang telah tinggal di Malaysia..

  10. alhamdulillah.. selepas membaca artikel ini serba sedikit saya mengetahui tentang sejarah pulau kelahiran ibu bapa saya. Meskipun menetap di malaysia saya sering bertanya tentang asal usul keluarga namun ada juga yang tidak terjawab. Di mana agaknya saya boleh dapatkan buku tersebut. Saya pernah pergi ke bawean pada tahun lepas tetapi tidak menjumpai buku itu.

  11. tak kabessa nyo on kak. sekali lagi ku temukan figur seorang boyanes sejati. trims banyak masih ingat bawean.

  12. hai hai dulur q punya foto2 di keluarga besar PTT mau?

    Wow, sekali cak hasyim. Kirim ya melalui email. itung2 tombo kangen he..3x

  13. no HP 3NO BKL brp ya…?aku temannya waktu ngartun dulu.kunjungi aku di facebook:Djoni Purwanto -Djoni DePe-

    Alhamdulillah, senang sekali kalau blog ini ternyata bisa menjembatani silaturrahim Jenengan dengan No BKL–yang juga karib saya–. Jenengan bisa kontak di No. 08155029101. Atau kunjungi blognya di Sketsa Magenta. Mudah2an bermanfaat. Met berkarya, sukses selalu!

  14. alhamdulillah saya mengenal asal usul tanah kelahiran saya, yang saya tahu kluarga saya sudah berada di medan sekitar tahun 1900an, atas blog ini saya mengenal lebih jauh tentang leluhur saya,

  15. assalaamu’alaikum togelen, saya benar2 senang membaca tulisan ini. Mantap

    salam untuk keluarga bawean yg ada disana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s