Seni Lukis dalam Peradaban Islam

Peradaban Islam di era keemasan tak hanya menguasai bidang politik, ekonomi, militer, dan ilmu pengetahuan belaka. Masyarakat Muslim di zaman kekhalifahan pun sempat menggenggam kejayaan di bidang seni rupa. Selain menghasilkan keramik, gelas atau kaca, karpet, serta kaligrafi–umat Islam di masa itu juga menguasai seni lukis.

Seni rupa mulai berkembang pesat di dunia Islam mulai abad ke-7 M. Sejak itulah, agama yang diajarkan Rasulullah SAW itu menyebar luas tak hanya di Semenanjung Arab, melainkan juga hingga mencapai Bizantium, Persia, Afrika, Asia, bahkan Eropa. Perkembangan seni lukis di dunia Islam terbilang sangat unik karena diwarnai dengan pro dan kontra.

Adalah perbedaan pemahaman pada Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari-Muslim yang membuat seni lukis menjadi kontroversi di kalangan umat Islam. Dalam hadis itu Rasulullah SAW bersabda, “Malaikat tak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar dan anjing.” Hadis ini dipandang shahih, karena diriwayatkan Imam Bukhari-Muslim.

Meski begitu, kalangan ulama berbeda pendapat soal boleh atau tidaknya melukis. Dalam <I>Ensiklopedi Tematis Dunia Islam<I> terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve (IBVH) disebutkan, ulama yang mengharamkan lukisan atau gambar, antara lain Asy-Syaukani, Al-Lubudi, Al-Khatibi, serta Badan Fatwa Universitas Al-Azhar. Para ulama itu berpegang pada hadis di atas.

Sementara itu, ulama terkemuka seperti Al-Aini, At-Tabrari, dan Muhammad Abduh justru menghalalkan lukisan dan gambar. Syeikh Muhammad Abduh berkata, “Pembuatan gambar telah banyak dilakukan dan sejauh ini tak dapat dimungkiri manfaatnya. Berbagai bentuk pemujaan atau penyembahan patung atau gambar telah hilang dari pikiran manusia.”

Tokoh pembaru Islam dari Mesir itu berpendapat bahwa hukum Islam tak akan melarang suatu hal yang sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. “Apalagi bila sudah dapat dipastikan bahwa hal itu tidak berbahaya bagi agama, iman, dan amal,” cetus Abduh. Dari zaman ke zaman perbedaan pendapat ini terus bergulir.

Di tengah pro dan kontra itu seni lukis berkembang di dunia Islam. Meski begitu, para arkeolog dan sejarawan tak menemukan adanya bukti adanya sisa peninggalan lukisan Islam asli di atas kanvas serta panel kayu. Hasil penggalian yang dilakukan arkeolog justru menemukan adanya lukisan dinding, lukisan kecil di atas kertas yang berfungsi sebagai gambar ilustrasi pada buku.

Salah satu bukti bahwa umat Islam mulai terbiasa dengan gambar makhluk hidup paling tidak terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah (661 M -750 M) di Damaskus, Suriah. Hal itu dapat disaksikan dalam lukisan yang terdapat pada Istana keci Qusair Amrah yang dibangun pada 724 M hingga 748 M.

Selain itu, serambi istana Musyatta yang dibangun penguasa Umayyah di akhir kekuasaannya tahun 750 M, juga dipenuhi lukisan manusia dan binatang. Pada era kekuasaan Abbasiyah, penggunaan gambar makhluk hidup dalam lukisan dinding juga digunakan pada istana Juasaq Al-Kharqani yang dibangun oleh Khalifah Al-Mu’tasim pada 836 M-839 M.

Makhluk hidup juga menjadi objek lukisan di istana Dinasti Abbasiyah di era pemerintahan Al-Muqtadir (908 M-932 M). Dalam dinding istana itu, tergambar lima belas penunggang kuda. Lukisan ini dipengaruhi gaya Mesopotamia. Lukisan manusia juga terdapat dalam dinding istana Sultan Mahmud Gazna (wafat 1030 M).

Gambar prajurit serta perburuan gajah yang terlukis di dinding istana Sultan itu lebih banyak dipengaruhi seni dari India. Lukisan manusia dan makhluk hidup mulai berkembang pesat di era Dinasti Fatimiyah dan Seljuk antara abad ke-12 dan 13 M. Seabad kemudian, seni lukis miniatur berkembang pesat di era kekuasaan Dinasti Il-Khans–dinasti keturunan Hulagu Khan yang sudah masuk Islam.

Penguasa Il-Khans, seperti Mahmud Ghazan (1295 M-1304 M), Muhammad Khodabandeh (Oljeitu) (1304 M-1316 M), dan Abu Sa’id Bahadur (1316 M-1335 M) sangat menaruh perhatian pada perkembangan seni. Mereka memperbaiki kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh invasi yang dilakukan leluhurnya terhadap dunia Islam.

Dinasti ini pun memperkenalkan gaya lukis Cina terhadap seni lukis miniatur Persia di zaman itu. Seni lukis miniatur Persia berkembang makin pesat di era kekuasaan Dinasti Timurid di wilayah Iran. Dipengaruhi gaya lukis Cina dan India, seni lukis miniatur Persia itu tampil dengan gaya yang unik. Seni lukis tradisi berkualitas tinggi juga berlangsung di era kekuasaan Dinasti Safawiyah.

Lantaran negara-negara Islam saat itu berbentuk monarki, seni lukis di setiap kota Islam sangat ditentukan pemimpinnya. Para penguasa Dinasti Safawiyah sebenarnya sangat mendukung para seniman. Salah seorang pemimpin Safawiyah yang mendukung kegiatan para seniman itu adalah Shah Ismail I Safav. Bahkan, dia mengangkat Kamaludin Behzad–pelukis kenamaan Persia–sebagai direktur studio lukis istana.

Lukisan Persia memiliki ciri khas tersendiri. Kebanyakan berisi sanjungan kepada raja dan penguasa. Selain itu, ada pula lukisan keagamaan yang menggambarkan interpretasi orang Persia terhadap Islam– agama yang mereka anut. Lukisan Persia pun sangat termasyhur dengan penggunaan geometri dan warna-warna penuh semangat.

Yang lebih penting lagi, lukisan Persia dikenal mata ilustratif. Lukisannya mampu memadukan antara puisi dengan seni lukis. Bila kita melihat lukisan Persia, seakan-akan kita diajak untuk membaca sebuah kisah puitis yang mampu menumbuhkan rasa kepahlawanan. Hal itu terjadi, karena lukisan-lukisan itu diciptakan dan terinspirasi oleh syair-syair yang begitu luar biasa.

Penguasa Safawiyah mulai mencabut dukungannya kepada para seniman di era kekuasaan Shah Tahmasp I tahun 1540-an. Akibatnya, para seniman yang bekerja di istana Shah pergi meninggalkan Tabriz, Iran. Mereka ada yang hijrah ke Bukhara kawasan utara India. Tak heran, jika seni lukis berkembang di Kesultanan Mughal, India. Di wilayah ini, seni lukis dikembangkan oleh para seniman imigran.

Salah satu ciri khas seni lukis Mughal adalah lebih bernilai humanistik dibandingkan hiasan. Gambar yang dilukiskan lebih ke dalam bentuk realistik, dibandingkan dalam bentuk fantasi. Pada era kekuasaan Turki Usmani, seni lukis juga berkembang pesat dengan sokongan dari istana Sultan.

Para penguasa Usmani memerintahkan para senimannya menggambar beragam bentuk peristiwa tentang kiprah Sultan, seperti pertempuran dan festival. Di era kepemimpinan Sultan Sulaeman Al-Qanuni ada pelukis miniatur terkemuka bernama Nasuh Al-Matraki. Hampir semua karya lukis pada zaman ini tersimpan di Perpustakaan Istana di Istanbul.

Begitulah seni lukis berkembang dari masa ke masa di era kejayaan Islam. Seni lukis yang khas dari setiap dinasti membuktikan bahwa umat Islam pada waktu itu mampu mencapai peradaban yang sangat tinggi di dunia.

Kamaluddin Behzad, Maestro Seni Lukis Miniatur

Maestro seni lukis Persia. Begitulah Kamaluddin Behzad–pelukis miniatur terkemuka dari Persia– itu kerap dijuluki. Ia adalah pelukis miniatur ulung yang mendedikasikan dirinya di istana Dinasti Timurid serta Safawiyah. Sebagai pelukis andal, Behzad pun didapuk sebagai direktur bengkel seni lukis (kitabkhana) yang memproduksi risalah bergambar dengan gaya yang khas.

Behzad terlahir sebagai anak yatim di kota Herat (Afghanistan) pada 1450 M. Ia dibesarkan oleh ayah angkatnya, seorang pelukis terkemuka bernama Mirak Naqqash. Behzad pun tumbuh sebagai anak yang menggemari lukisan. Berkat kemampuan melukisnya, sang maestro pun dipercaya penguasa Timurid, Sultan Husain Bayqarah (berkuasa 1469 M-1506 M), untuk menjadi pelukis istana.

Selain dipercaya Sultan, Behzad juga sering diminta oleh para penguasa Timurid untuk melukis. Ketika kekuasaan Dinasti Timurid ambruk, pamor Behzad sebagai maestro lukis tetap bersinar. Tak heran, jika penguasa Dinasti Safawiyah yang berpusat di Tabriz juga mengangkatnya sebagai pelukis istana. Saat itu, Dinasti Safawiyah dipimpin oleh Shah Ismail I Safav.

Behzad pun diangkat sebagai direktur studio lukis istana Safawiyah. Dengan kepercayaan itu, sang maestro pun mengembangkan seni lukis yang kemudian menjadi ciri khas lukisan Persia. Pelukis Persia di era Behzad kerap menggunakan susunan elemen-elemen arsitektur geometrik sebagai struktur atau konteks komposisi dalam menyusun gambar. Behzad pun memiliki kemampuan dalam membuat landskap.

Ia sering menggunakan simbol-simbol sufi dan simbol warna untuk menyampaikan pesan. Behzad pun dikenal sebagai pelukis yang memperkenalkan aliran naturalisme ke dalam lukisan Persia. Karya-karya Behzad dikenal hingga ke peradaban Barat. Karya lukisnya digunakan dalam buku Layla Majnun dan Haft Paykar.

Seperti halnya Abu Nuwas, sosok Behzad pun terbilang legendaris. Jika figur Abu Nuwas masuk dalam cerita Hikayat 1001 Malam, Behzad pun dijadikan salah satu figur dalam kisah novel karya Orphan Pamuk berjudul, My Name is Red. Dalam novel itu, Behzad diceritakan sebagai seorang pelukis miniatur Persia yang sangat hebat. Behzad dikisahkan membutakan matanya sendiri dengan jarum.

Behzad meninggal pada 1535 M. Ia dimakamkan di Tabriz. Sosoknya hingga kini masih tetap dikenang. Patung Behzad hingga kini masih tetap berdiri kokoh di 2-Kamal Tomb, Tabriz–kota terbesar keempat di Iran. Behzad tetap dianggap sebagai pelukis hebat dan legendaris milik bangsa Iran. hri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s