Pendakian yang Melelahkan

20080729065106

Dikisahkan, Imam Ali bin Abi Thalib dan istrinya, Fatimah, pernah didatangi oleh pengemis selama tiga hari berturut-turut. Mereka meminta makanan yang semula disiapkan oleh pasangan suami-istri itu untuk buka puasa. Keduanya dengan senang hati memberikan makanan itu meskipun mereka sendiri sangat membutuhkannya.

Peristiwa tersebut, menurut keterangan banyak pakar tafsir, telah menjadi penyebab turunnya ayat ini, ”Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan: 8-9).

Apa yang dilakukan Imam Ali dan istrinya itu sungguh merupakan perbuatan yang teramat mulia, meski tidak mudah. Alquran menggambarkannya sebagai pendakian yang sulit lagi melelahkan. Firman Allah SWT, ”Tetapi, dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) memerdekakan budak atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kerabat atau orang miskin yang papa.” (Al-Balad: 11-16).

Dalam ayat di atas, jalan yang mendaki lagi sukar itu dinamakan ‘aqabah yang secara harfiah bermakna batu besar di puncak bukit. Ini berarti, tidak setiap orang dapat mencapainya, atau dengan kata lain, dibutuhkan perjuangan dan kerja keras untuk dapat mencapai puncaknya. ‘Aqabah juga bermakna batu cadas dalam sumur yang sering menghancurkan timba. Pendeknya, ‘aqabah adalah metafor untuk kebaikan yang membutuhkan perjuangan dan kerja keras lagi melelahkan. Sebagai pendakian yang melelahkan, dukungan dan bantuan kepada orang-orang lemah itu tak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Dalam ayat-ayat berikutnya dalam surat Al-Balad itu, disebutkan bahwa orang yang mampu melakukan pendakian itu hanyalah orang yang memiliki tiga syarat berikut ini.

Pertama, iman dalam arti komitmen ketuhanan dan kemanusiaan yang tinggi. Kedua, sabar dalam arti tabah dan tahan uji dalam menghadapi kesulitan. Ketiga, kasih sayang (marhamah) dalam arti simpati dan empati yang ditunjukkan melalui pemberian pelayanan dan perlindungan bagi orang-orang lemah.

Bantuan kepada orang-orang lemah dalam ayat di atas dilakukan dalam bentuk pemberian makanan. Ini tentu hanyalah contoh, karena orang miskin, anak yatim, dan anak telantar juga perlu sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan jaminan keamanan. Bantuan itu harus diberikan dalam bentuk program yang lebih komprehensif untuk meningkatkan harkat dan martabat mereka sebagai manusia.

Program ini merupakan tugas dan misi kenabian. Sebagai kaum beriman kita harus melanjutkan tugas suci ini. Diakui, tugas ini berat dan melelahkan. Namun, itulah pendakian yang harus dilakukan jika kita benar-benar berharap kemuliaan dari Allah SWT. Wallau a’lam.

Sumber: Republika

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s