Korupsi Kembali Beraksi

superiman.gifLagi-lagi kita disuguhi dengan pemandangan yang memuakkan. Manakala pejabat penegak hukum yang diharapkan menjadi ujung tombak pemberantasan korupsi di negeri ini, justru menjadi pelakunya. Baru-baru ini santer terdengar di media-media, kabar tidak sedap ini. Seorang oknum pejabat penegak hukum tertangkap tangan sesaat setelah menerima uang US$660 ribu yang diduga sebagai uang suap dalam perkara BLBI.

Penangkapan itu tidak cuma besar karena suap senilai Rp6 miliar. Namun, lebih dari itu, inilah kasus besar karena yang ditangkap adalah seorang penegak hukum oleh aparatur penegak hukum juga. Tidaklah gampang menangkap penegak hukum yang melanggar hukum. Selain membutuhkan bukti yang cukup kuat, dibutuhkan keberanian yang lebih dari cukup untuk melakukannya.

Korupsi, seperti yang jamak terjadi di mana saja, adalah persekongkolan antara para penguasa dan para beruang (binatang ganas yang berkuku tajam). Karena itu, perang yang paling sulit dalam korupsi adalah membongkar persekongkolan di antara dua kubu manusia bertopeng ini.

Mengapa sulit? Karena yang biasanya mengibarkan bendera perang terhadap korupsi adalah orang-orang yang memegang kekuasaan juga. Tantangan terbesar dari kekuasaan adalah bagaimana menghukum kalangan sendiri yang melakukan korupsi.
Seringkali kita mendengar pesan moral ‘jangan berwudlu menggunakan air najis’. Nah, sekarang kita membuktikan pesan moral ini layak untuk dicermati. Pemegang lini kekuasaan di negeri ini tampaknya belum mampu membersihkan anggota badannya dari najis. Bagaimana tidak, air yang digunakan untuk membersihkannya saja najis, mana mungkin?

Para penegak hukum adalah badan yang diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi di negeri ini. Sungguh tidak etis, jika para penegak hukum ini melakukan perbuatan yang justru harus diberantasnya. Ini adalah PR besar yang harus segera dituntaskan oleh pemerintah.

Tampuk kekuasaan tertinggi harus memberikan teladan bagi bawahannya. Mereka harus bersih dari korupsi ini. Jangan hanya serius dalam menangkap pejabat-pejabat kelas teri, tapi membiarkan para pejabat tingginya asyik berleha-leha. Selalu saja bawahan yang jadi korban kebuasan para atasan. Sementara bawahan tampak basah dengan masalah, para atasan santai mencuci tangan.

Harapan melihat negeri ini bebas dari korupsi tampaknya sulit diwujudkan. Rakyat pantas meragukan keseriusan pemerintah dalam memberantas korupsi. Kalau melihat kelakuan para pejabat seperti itu, keraguan tersebut sangat beralasan. Rakyat sangat rindu hidup di dalam negeri yang bersih, tidak hanya bersih dari sampah material tapi juga peradaban seperti korupsi. Kasus korupsi pejabat ini tampak seperti hentakan musik cadas yang memekakkan telinga. Pecah rasanya telinga ini mendengarkannya. Bagaimana rakyat hidup dalam damai kalau setiap hari menikmati nyanyian keras tanpa tangga nada ini? Rakyat sudah sangat lelah dengan segala beban hidup yang dipikulnya, ditambah lagi pemerintah yang tak mau ambil peduii dengan kesulitan mereka. Pemerintah tak bisa merakyat, beban kehidupan rakyat terus meningkat.

Jabatan adalah Amanah
Sebagai seorang muslim kita tentu tahu bahwa Islam memandang kekuasaan itu sebagai amanah bukan lahan untuk mencari rizki atau kunci pembuka simpanan kekayaan. Jabatan tersebut justru merupakan amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Kalau tak berhasil dilakukan secara benar justru menjadi momok menakutkan di akhirat. Kecuali jika para pejabat sudah tak peduli dengan hal ini. Silahkan saja mencicipi menu daging bernanah yang terhidang bersama kuah bercampur darah di neraka nanti.

Tanggung jawab sebagai penguasa sangatlah besar. Rasulullah saw. Bersabda: “Ketahuilah, setiap kalian adalah penggembala (pemimpin) dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya (orang-orag yang dipimpin). Dan imam yang memimpin kaum muslim adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya” (HR. Bukhori)
Oleh karena itu, jabatan penguasa bagi kaum muslim bukanlah lahan basah yang harus diperebutkan. Tidak ada cerita perbedaan fasilitas antara pejabat dan penguasa. Tidak ada keistimewaan tertentu bagi pejabat yang membuatnya asyik berbuat apa saja, memerintah sana-sini, pakai dilayani ini dan itu, berperilaku seperti raja dan menjadikan rakyat sebagai kesetnya.

Maka tatkala Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. setelah pelantikannya sebagai Khalifah kaum muslim, keesokan harinya tetap memanggul bungkusan kain untuk dijual di pasar, sama seperti hari-hari biasanya. Tak ada yang berubah kecuali dia sebagai pemegang tampuk kekuasaan tertinggi bagi muslimin. Al-Faruq yang menjumpainya di tengah jalan pun memintanya untuk berkonsentrasi dengan jabatannya sebagai pelayan (baca:khalifah) bagi kaum muslim, dan cukup mendapatkan imbalan dari kantong baitul mal, untuk keperluan hidup sehari-hari.

Tetapi, subhanallah. Ketika wafatnya beliau mengembalikan kelebihan hartanya sejak beliau diangkat sebagai Khalifah ke baitul mal, yang berupa seekor keledai pengangkut air, sebuah tong besar untuk memerah susu, dan sehelai baju yang biasa dipakai untuk menerima utusan. Putrinya tercinta ‘Aisyah r.a’ telah menunaikan wasiatnya ini dengan sempurna. Ketika Al-Faruq sebagai penggantinya melihat hal ini, beliau menangis, katanya “Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Bakar. Sungguh ia telah memberatkan orang-orang (para pemimpin) di belakangnya” (Ar-Rijal Haula Ar-Rasul karya Khalid Muhammad Khalid)

Dengan sikap amanah seperti itu, jangankan masalah korupsi semua persoalan pemerintahan secara teoritis dan praktis bisa terselesaikan. Harapan melihat pemerintahan yang bersih dan amanah pun tak sekedar impian tanpa kenyataan. Kekuatan iman dan ketaqwaan memegang kokoh Islam dalam segala lini kehidupan telah berhasil mereka wujudkan dengan sempurna. Inilah teladan bagi para penguasa, tidakkah kita mengambil pelajaran?

Ingatlah, hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah, semua problem kehidupan yang tak sekadar korupsi itu bisa terselesaikan. Disinilah intinya mengapa kita harus kembali kepada hukum Allah. Karena hanya hukum Allah lah yang paling sempurna, maka semua persoalan itu dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Inilah, wujud kesempurnaan ketaqwaan kita kepada Allah. Di dalam kitab suci-Nya, Al Quran Allah berfirman:
“Siapa saja yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tak disanganya” (TQS. At Thalaq 2)

Khalid Wahyudin, Bumi Pasir, Maret 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s