Tamaddun

irma-khalid100.jpg

Puisi-puisi Irma Arifah Khalid
Seorang pegiat sastra, alumnus UNAIR
Tinggal di Tulungagung
TAFAKKUR 1

Tafakkurku daun-daun kering berjatuhan
Menggelimpang berguling di atas tanah berbalut debu jalanan
Tafakkurku ranting-ranting terpelanting di pusara kebisuan
Mengisahkan tentang dingin malam dihembus hawa kematian
Kemana gerangan terpercik setitik air kehidupan
Berharap tumbuh rumput dan ilalang
Kepada sunyi segala liuk sujud dinafaskan
Tafakkurku dalam rengkuh siang-malam, yang disabdakan.
Tiada..tiada yang mesti terabaikan….

Surabaya, 14 Rajab 1423 H

KEPADAMU

Mengeja namaMu dalam bisu dan kian merapatnya waktu,
ternyata aku hanyalah debu
dan angin yang segera berlalu
yang hanya menyisakan rerontokan daun-daun kering di pelataran rumahMu
Di sini wilayahku,
yang hanya bisa mengisyaratkan beribu rindu
karena aku tahu,
jejak kaki ini hanyalah debu
dan takkan terhapus walau oleh waktu
Mengeja namaMu dalam bisu dan kian merapatnya waktu,
ternyata aku hanyalah kabut
dan awan yang kian surut,
lalu sirna dalam rintik hujan,
yang hanya menyisakan keberserakan,
kepedihan demi kepedihan
Kembali di sini kurenungi sunyi wilayahku,
seperti kemarin kususuri jalanan waktu,
detik demi detik kian beku di ujung sunyiMu
sementara, belum juga mampu
kaki-kaki kecil ini tuk sekadar merambah wilayahMu

Maka jawablah,
ketika tiada lagi bagiku tempat mengadu
adakah waktu masih tersisa bagi setitik debu
tuk sekedar menghapusnya dari sudut kalbu
di lorong kecil, setapak demi setapak jalanku

Surabaya, 5 Rajab 1423 H

KUSEBUT ENGKAU

Kusebut Engkau
Ketika angin pun bisu

Dalam pekat malam demi malam berlalu
kususuri sunyi lorong-lorong bisu
ternyata
belum juga aku paham
ketika jalan dililit keterasingan
ketika batu-batu pun hanya terdiam

sementara, masih kusebut Engkau
meski entah berapa jarak dan waktu
harus kutempuh
entah demi diri yang luruh
entah demi kericuhan yang bergemuruh
atau demi suara-suara lembutMu
menjawab tiap bisikku
dalam derai air mata munajat-munajatku

Surabaya,  6 Rajab 1423 H

TIADA KATA YANG TERSISA

Tiada yang tersisa dari segala kata
Kalau musim demi musim bergulir, hanya menunggu di ufuk senja
sebab matahari kan segera lelap di peraduannya
dan kita pun hanya bisa menundukkan kepala

Angin menelusup dingin di antara pohon-pohon kamboja
lalu, menyematkan satu tanya di lubuk jiwa
sampai di mana langkah kita berada
ketika kaki terasa begitu letih menopang segala beban di batas cakrawala

tiada kata yang tersisa
ketika ia tak lagi mampu ‘tuk sekedar dieja.

Surabaya,  6 Rajab 1423 H
TAFAKKUR 2
Ya Ilahi,
menyusuri lorong ini,
terasa begitu jauh langkah kaki
menapak tilasi detik-detik mimpi,
menginterpretasi
tiap musim yang selalu melambai

Ya Ilahi,
meski bagaimana
meniti kepingan-kepingan hari
dalam riuh kalbu yang erat tersembunyi

Ya Ilahi,
nafas sunyi malam demi malam pun terus berganti,
meregang antara hidup dan mati
saat tafakur tiap detak nadi
menjadi diri, ternyata seperti menjadi kian tiada arti.

Surabaya, 9 Agustus 2002
KONTEMPLASI

Dalam genggamanMu
desah nafas ini berada
Dalam tatap kasihMu
denyut nadi ini menjelma
Dalam ketetapanMu
tiap-tiap yang bernyawa melalukan benang rentang usia

Namun,
masih saja alpa
bahwa segalanya ini Engkau yang paling Kuasa
Betapa tidak,
ketika diri terlupa,
betapa Engkau Maha Menghendaki segalanya
walau hanya setitik air mata yang menetes di sudut jiwa

Surabaya, 7 Rajab 1423 H

RETORIKA MALAM

Malam yang beku…
Rindu itu begitu biru, merintikkan hujan di sudut kalbu
ternyata memang,
cinta tiada yang berubah
meski jasad harus lebur dilumat tanah
dan,
Tiada yang tersalah ketika hujan jatuh di tanah gersang ataupun di ranah basah
Tuhan selalu tiada pernah salah memperhitungkan segalanya
Ibroh tertunduk bisu, di lorong sunyi itu
Menunggu kita menyapa, mengajak merenungkan segalanya

(Dzulhijjah 1423 H)

KISAH SEORANG PENDO’A

Ketika kumohon pada Alloh kekuatan,
Alloh memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Alloh kebijaksanaan,
Alloh memberiku masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon pada Alloh kesejahteraan,
Alloh memberiku akal untuk berpikir
Ketika kumohon pada Alloh keberanian,
Alloh memberiku bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Alloh sebuah cinta, Alloh memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon bantuan,
Alloh memberiku kesempatan
Aku tidak pernah menerima apa yang aku pinta, tetapi aku menerima segala yang kubutuhkan
Do’aku terjawab sudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s