Gara-gara PlayStation

PlayStation Disita Ibu, Anak Sewa Pembunuh Bayaran  

Dunia semakin aneh saja. Kemarin, saya sempat membaca sebuah berita di situs detikinet dengan judul yang menggugah, seperti yang tertulis di atas. Sebagai orangtua, kita mungkin akan mengurut dada dengan nafas yang dalam. Khawatir dan cemas, kalau-kalau hal itu akan terjadi pada diri kita.

Anak yang sudah dididik dan dibesarkan, tiba-tiba menjadi seperti monster yang menakutkan. Orangtua mana di dunia ini yang tidak akan merasa khawatir dengan hal yang demikian. Barangkali, zaman memang benar-benar sudah edan. Bagaimana tidak, seorang remaja 16 tahun, di Maryland, AS, Cory namanya, sampai berencana menghabisi nyawa ibunya sendiri gara-gara menyita PlayStation miliknya.

Kisah ini bermula ketika Ny. Troiano, ibunda Cory, melihat bahwa prestasi Cory di sekolah semakin buruk. Menganggap PlayStation sebagai salah satu penyebabnya, maka dia memutuskan untuk menyita playstation tersebut.

Ternyata, perbuatan Sang Ibu tersebut membuat Cory geram dan tak terima diperlakukan demikian. Ia justru kabur dari rumah dan mengancam akan memberi pelajaran pada ibunya. Ancaman remaja kalap dan keblinger itu ternyata tidak main-main. Suatu hari, Cory diperkenalkan dengan seseorang yang disebut-sebut sebagai pembunuh bayaran. Cory menawarkan truk pick up milik ayahnya sebagai bayaran atas tugas menghabisi ibunya. “Hanya butuh dua peluru saja,” ujarnya pada si pembunuh bayaran. Wih, ngeri sekali! Coba bayangkan, kalau yang melakukan itu adalah anak-anak kita. Bisa jadi, kisah anak durhaka “Si Malin Kundang” akan berlanjut dengan sekuel baru yang jauh lebih sadis dan menegangkan.

Syukurlah, hal itu tak sampai terjadi karena Cory keburu ditahan oleh polisi. Kok bisa? Ya, suatu kebetulan, ternyata seseorang yang disangka sebagai pembunuh bayaran tersebut adalah seorang polisi yang sedang melaksanakan tugas penyamaran.

Dalam interogasi polisi, Cory mengaku bahwa dia merasa tertekan karena diusir dari rumah oleh ibunya. Karena frustasi, dia memutuskan untuk menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa ibunya.

Korban Broken Home ?

Jika dirunut ke belakang, ini bukan kali pertama Cory membuat ulah. Tumbuh di keluarga broken home rupanya mempengaruhi perkembangan kejiwaannya. Setelah berpisah dari ayahnya, sang ibu menikah lagi saat Cory berumur 1 tahun. Selain itu, masalah keuangan juga melilit perekonomian keluarga mereka.

Berbagai kenakalan pun kerap dilakukan. Antara lain, membunyikan alarm kebakaran lalu mengacau di sebuah pasar malam, mencuri uang tabungan kakaknya setelah bertengkar hebat dengan ibunya. Bahkan, karena kenakalannya dia dikeluarkan dari sekolah.  Akibat perbuatannya itu, Cory harus melewatkan hari-harinya di penjara anak-anak hingga usianya genap 21 tahun.

Tapi begitulah, seperti kata pepatah ‘kasih Ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.’ Ungkapan ini benar adanya, meski sang anak telah berlaku durhaka padanya, ibunda Cory tetap mengkhawatirkan anaknya jika harus menjalani program turun ke jalan. Merasa menyesal, Cory pun telah mengirimkan surat yang menyatakan bahwa dia sangat mencintai ibunya dengan segenap hati.  Tantangan bagi Dunia Pendidikan

Adalah sebuah tantangan bagi dunia pendidikan saat ini, bagaimana dunia pendidikan mampu menghasilkan manusia-manusia yang mumpuni dalam segala bidang sekaligus memiliki nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Bukan mumpuni dalam kriminalitas dan kejahatan yang memurukkan. Kisah ini hanya satu dari sekian banyak fakta yang terjadi. Betapa tingkat kriminalitas dan kejahatan anak telah mencapai batas yang mengkhawatirkan. Di manakah letak ketidak-beresannya? Jawabnya, terutama terletak pada pendidikan dan pembinaan. Dua faktor inilah yang menjadi kunci utama dalam membentuk kepribadian anak. Mungkin para orangtua butuh berkaca berulangkali, apakah ia sudah benar-benar melaksanakan tugas mendidik dan membina anak dengan sebaik-baiknya, ataukah ia hanya sekadar memberikan apa yang dibutuhkan anak dalam wujud materi belaka. Sedangkan, nilai pendidikan dan pembinaan kosong. Kemanakah para orangtua sekarang berkiblat dalam mendidik anak-anaknya? Ke arah pola pendidikan ala barat dengan paham liberalismenya? Ataukah kembali kepada cara mendidik anak berdasarkan tuntunan nabi? Tentu jawaban ini berpulang pada pribadi dari masing-masing orangtua itu sendiri. Rasulullah saw, bersabda, “Setiap anak terlahir dalam keadaan suci. Bapak-bapaknya lah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi..”. (HR. Bukhari). Jelas, bahwa beban tanggungjawab tersebut terletak pada  kedua orangtua. Sangat mudah untuk ditebak, bagaimana perilaku anak terkadang tampak pada perilaku kedua orangtunya, meskipun hal ini tidak selalu benar. Namun demikian, perlu disadari pula bahwa meskipun orangtua menjadi penanggung jawab utama pendidikan dan pembinaan terhadap anak-anaknya, bukan berarti yang lain boleh lepas tangan. Ada dua komponen penting lain yang sangat diharapkan peranannya dalam hal tanggung jawab ini, yaitu masyarakat dan negara. Dua komponen penting ini juga harus dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi pendidikan dan pembinaan generasi.  Dengan demikian, sangat dibutuhkan kerjasama mutualisme antara orangtua, masyarakat, dan negara. Ketiga komponen ini harus mampu bersatu padu menciptakan iklim dan sistem pendidikan yang baik dan tangguh. Jika ketiga komponen tersebut abai dan acuh, sudah barang tentu harapan mendapatkan generasi yang linuwih hanya tinggal harapan yang terserak sia-sia di setiap hati orangtua dan seluruh elemen bangsa ini. Wallahu a’lam bish Showab.  Khalid Wahyudin, Bumi Pasir, Nopember 2007 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s