Kado Buat Istriku

Istriku, dalam detik yang tak mungkin terhenti. Izinkan aku membuka peti diri, yang tersimpan dalam bumi hati-ku. Maafkan, kalau selama ini kau tak mampu melihatnya, atau tak mampu kiaskan bunga-ragam maknanya. Karena bulan yang tak selalu purnama, atau matahari yang terhenti pada gerhana.

Istriku, jujur hati aku ungkapkan, kau adalah bunga dalam jambangan hati. Yang setiap saat kusiram dan kujagaKu ingin kau tetap bersemi dan mekar disini.

Kau adalah obat pada hati yang teriris pedih. Kala dunia dukakan aku, atau jalan padas retakkan tapak kaki. Kau teman beriring yang sanggup usapkan peluh yang mengalir, atau mata bersembab-merah yang tak sekadar ungkapkan duka dosaku.

Kau adalah berlian diantara emas dan perak yang terhenti pada karatnya. Kau mampu menyulam benang basah air mataku menjadi selimut indah yang menghangatkan hari-hari.

Kau hadir dalam genang rindu yang mengalir pada lautan cinta. Menghempaskan ombak yang mengukir padas dengan kata indah.

Sayang, sungguh hidup telah menggariskan kita bertemu. Saat aku tak pernah bayangkan tanah berpijak dan langit tempatku berteduh.   

Tak terasa, sudah tiga tahun kita bersama lewati hari-hari. Suka cita dan gelisah hati mewarnai biduk indah rumah tangga kita. Aku ingin persembahkan untukmu buah cinta berindu yang tak terhenti pada keluh.  

Tapi maafkanlah, kalau aku tak sanggup sejajarkan diri dengan barisan laki-laki langit di firdaus-Nya. Ya, inilah aku, laki-laki apa adanya yang berusaha memintal hari dengan benang-benang kesetiaan dan janji. Maafkan, jika aku tak mampu bertahta yang sepantasnya dalam singgasana hatimu.   

Aku bukanlah Sang Perkasa Al Fatih yang sanggup menaklukkan para jumawa di tanah romawi, menghancurkan benteng batu dan hati. Yang sanggup pancangkan panji-panji kemenangan pada setiap penjuru negerinya.  

Atau aku bukanlah Khalid bin Walid, yang sanggup melewati berjuta pedang pada tanah sempit dan lapang, tanpa sedikitpun kekalahan. Sang Panglima seribu peperangan yang disegani kawan dan lawan.  

Atau aku bukanlah Sayyidina ’Aly, yang sanggup memadu kata indah dalam bait-bait syair yang memukau mempesona. Menjadikan sang pemalu, tak lagi sungkan menyunggingkan senyum indahnya. Seorang perayu beriman dengan intelektual brilian dan keberanian pada setiap laga tandingnya.   

Maafkan, kalau aku tak mampu mempersembahkan hadiah istimewa untukmu. Hanya kata sederhana yang terangkai apa adanya, dan tak seindah karya cipta para pujangga.

Maafkanlah aku, maafkan!   

Khalid Wahyudin, Bumi Pasir, Nopember 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s