Pak Iwan dan Sepenggal Cerita tentang Pengabdian

Sepenggal perjalanan

 

Siang itu, saat para santri ramai bermain di halaman dan petugas dapur sibuk menyiapkan hidangan makan siang, saya sempatkan berbincang dengan Pak Iwan (panggilan akrab Pak Sumarwan), di sela-sela waktu luangnya. Kepada saya, ia menuturkan dengan lancar, kisah hidup dan pengabdiannya di Al Azhaar. Tak terasa sudah 9 tahun lamanya, ia mengabdikan diri disini (baca: al azhaar). Banyak sudah kisah hidup yang telah dialaminya. Al Azhaar, seperti yang diakuinya telah menorehkan sebagian besar dari kisah hidupnya itu.

 

Saat menapaki masa mudanya dulu, ia adalah sosok pemuda yang selalu tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru dan menarik hatinya, melanglang dari satu tempat ke tempat lain atau dari satu profesi ke profesi lainnya. Sampai pada akhirnya, perjalanan hidup itupun tertambat disini, saat hati telah terisi dengan cinta yang sanggup meluruhkan segalanya. Cita-cita telah berpadu, perbedaan yang dulu begitu kentara, kini telah menyatu dalam satu visi yang sama, berniat dan membulatkan tekad untuk mengayuh biduk-cinta dalam lautan kehidupan yang tak sepi dari badai dan topan. Lelaki asli Pacitan ini, telah menambatkan hatinya pada seorang gadis Tulungagung, asli Desa Kampungdalem, Sri Agustini, namanya.

 

Sekitar tahun 1998, sebuah kehidupan baru telah dimulai dan kewajiban yang baru pula telah menanti. Suatu saat, ia tertarik dengan sebuah tawaran yang diajukan seseorang, untuk mengabdikan diri pada sebuah lembaga pendidikan, yang kala itu masih bocah, dan sedang berjuang membangun citra dirinya. Sebuah keputusanpun telah dibulatkan. Ia harus mengambil kesempatan ini, berjuang pada sebuah lembaga yang akan memberikan banyak kesempatan baginya untuk bekerja dan mengabdi.

 

Dan di tahun itulah, ia resmi masuk ke dalam jajaran pekerja dan pengabdi di Al Azhaar, yang saat itu masih terpusat di Kepatihan. Sebelumnya, ada teman-teman lain yang lebih dulu masuk dan bergabung di Al Azhaar, sebut saja seperti, Pak Hadi Sadar Atmaja (sekarang: Kepala Balai Pengobatan), Pak Bian (Psikolog), Bu Choir, mBak Surati, dan Bu Sri Ngatin (layanan Gizi). Pertama kali bertugas, ia di beri amanah sebagai petugas cleaning servis di TK dan SD. Dan baru pada tahun 2003 lalu, dari petugas cleaning service, ia bermutasi ke Layanan Gizi, dan itu berlangsung sampai sekarang. Ayah dari Azar Agus Darmamawan ini, mengaku sangat menikmati tugas yang diamanahkan di pundaknya. Ia sedikitpun tidak merasa terbebani, karena tugas itu ia jalankan dengan sukarela. Seperti saat mengepel membersihkan lantai, begitu pula, ia selalu membersihkan hatinya agar senantiasa bersih dan jernih. Niat mesti selalu ditata, agar tak sampai jatuh pada perbuatan sia-sia, dan apa yang dilakukannya dapat dinilai sebagai ibadah.

 

Saat saya menanyakan, ”Pernahkah terlintas untuk mencoba berpindah ke profesi lain yang lebih menjanjikan atau menguntungkan secara materi?” Jawabnya sambil berseloroh, ”Tak mudah bagi saya, untuk pindah ke lain hati”. Jujur ia mengakui, selama ia masih dipercaya untuk memegang amanah yang dibebankan di pundaknya, ia akan berusaha untuk selalu menjaga kepercayaan itu. Dan selama itu pula, Ia akan bekerja dengan sebaik-baiknya.

 

Baginya, hidup itu membutuhkan keseriusan dan ketekunan. Dan hal itu tampak pada amaliah hidupnya sehari-hari. Keseriusan dan ketekunan seringkali berjalan beriring dengan keikhlasan. Susah dibayangkan, seseorang dapat dikatakan ikhlas, kalau dalam menunaikan tugasnya tak tampak sama sekali keseriusan dan ketekunannya, begitulah pandangan Pak Iwan. Oleh karena itu, Ia pun tak ingin bermain-main dalam hidup ini. Artinya, hidup ini harus dijalani dengan serius, tak boleh main-main. Wah, kalau begitu, kita tidak boleh ketawa-ketiwi atau guyonan dong? Hidup itu harus ada humornya, kalau tidak, hidup ini bisa hambar? Tanyaku menyela. Lalu jawabnya, ”Yang saya maksudkan itu hidup dalam arti visi dan misi hidup, kalau masalah ketawa-ketiwi guyonan atau dolanan humoria itu sih wujud dari assesoris kehidupan saja, yang penting tidak melampaui batas, saya kira tidak masalah”. Begitulah Pak Iwan menjelaskan pandangan filosofisnya. Wow, saya sangat terpukau mendengar jawaban itu, luar biasa!

 

Teman bercerita

 

Dia mengakui sangat dekat dengan Pak Sarpan (sekarang driver), sehingga dialah orangnya yang seringkali ia jadikan sebagai teman ngobrol, untuk memperbincangkan tentang banyak hal. Baginya, Pak Sarpan layaknya seperti saudara sendiri. Meski begitu, ia pun tak menampik adanya peran dari teman sejawat lainnya, yang turut juga menorehkan kisah tersendiri dalam hidupnya.

 

Pak Iwan, bukanlah sosok yang suka membeda-bedakan diantara teman. Dalam pergaulan sehari-hari, ia termasuk orang yang mudah bergaul, ringan tangan dan solider. Baginya, setiap orang itu memiliki karakter sendiri yang khas. Oleh karena itu, sikap membeda-bedakan dalam arti bergaul hanya dengan orang yang dianggapnya memiliki kesamaan, akan mematikan ciri dan karakter yang khas tersebut. Sebab, persoalan sebenarnya bukanlah terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada sikap kita dalam memandang perbedaan tersebut.

 

Menuangkan tulisan

 

Sehari setelah perbincangan itu, saat kembali ke SD sehabis mengajar di SMP, dari belakang Pak Iwan memanggil saya, ”Pak, tunggu!”. Saya menoleh, dan tampak Pak Iwan berlari kecil sambil menyodorkan selembar kertas folio putih yang agak lungset. ”Pak, tolong panjenengan postingkan juga tulisan saya ini, ya!”. Saya menerima kertas itu, dan menjawab singkat, ”Baik, Insyaallah”. Sambil berjalan saya amati tulisan itu, saya tertawa kecil saat membaca tulisan, ”Selamat membaca di blogger Pak Wahyu”. Ah, ada-ada saja Pak Iwan ini.

 

Demi menghargai niat baik itu, maka tanpa sungkan-sungkan lagi, saya memposting tulisan tersebut. Dan disini, kita dapat mengetahui, ternyata Pak Iwan memiliki bakat juga dalam menulis, yang bahkan bagi sebagian guru sendiri menjadi sesuatu yang merisaukan, sangat disayangkan, memang. Ya, di blog saya inilah, Pak Iwan menuangkan tulisan sederhananya:

 

Jadilah Pemimpin yang Adil (Imaamun ’Aadilun)

Oleh: Sumarwan, Tim Layanan Gizi LPI Al Azhaar, Tulungagung.

Seorang pemimpin yang adil harus bisa memberi contoh yang baik dan tidak bersikap membeda-bedakan terhadap orang-orang yang dipimpinnya (baca:bawahan). Janganlah bersikap terlalu berlebihan, misalnya, terlalu memanjakan, memberi sanjungan, memuja, terlalu dekat, terlalu percaya, dn sebagainya. Bersikaplah wajar dan sederhana, misalnya, kalaupun harus percaya, percayalah sewajarnya saja, jangan terlalu percaya. Kalau pun harus dekat, dekatlah sewajarnya. Jangan terlalu dekat dan lain sebagainya.

Kalau seorang pemimpin bisa bersikap wajar dan sederhana, maka semua orang yang dipimpinnya akan merasakan keadilannya. Tetapi, kalau seorang pemimpin bersikap terlalu berlebihan terhadap bawahannya, maka ia –bawahan itu– akan merasa sebagai orang yang paling dilindungi, paling dipercaya, paling dekat, dan paling-paling lainnya. Yang pada akhirnya, akan menimbulkan iri hati, seakan-akan yang lain tidak memiliki kemampuan, tidak memiliki hak apapun dan merasa di telantarkan.

Kalau seorang pemimpin mau bersikap wajar dan sederhana, adil, dan tidak membeda-bedakan, dan berusaha merangkul semuanya dengan penuh keadilan, Insyaallah, orang yang dipimpinnya akan merasa nyaman dan rukun, saling membantu, saling bekerjasama, saling memahami, saling bersikap terbuka, tidak akan merasa terpojokkan atau dianak-tirikan, dan lain-lain.

Maka keadilan, kerukunan, ketertiban dan lain-lain, itu penting dan kudu di budayakan di semua kalangan. Ingatlah ”sak bejo-bejone wong kang lali isih luwih bejo wong kang eling lan waspodo.”

Kanthi sesanti joyo-joyo wijayanti. Mugo poro pemimpin kaparingan rahayu gusti allah sing di pimpin. Amin. Congkrah agawe bubrah, Rukun agawe santoso. Wassalam.

 

Inilah tulisan Pak Iwan, meski terbilang sederhana, namun sarat dengan hikmah. Imam Ali bin Abi Thalib k.w. pernah berpesan, ”Janganlah engkau menilai kebenaran itu dari orangnya, tetapi kenalilah kebenaran itu, maka engkau akan mengenal orang yang mengembannya”. Wallahu a’lam bish Showab.

 

Khalid Wahyudin, Nopember 2007

 

 

 

Iklan

One thought on “Pak Iwan dan Sepenggal Cerita tentang Pengabdian

  1. Ustadz, masukkan link aku ya…
    di abuqowwiim.mulitply.com dan langkah-nurdin.blogspot.com
    Thakns… before… full Inspiration

    Alhamdulillah, saya merasa tersanjung sekali. Ustadz Nurdin berkesempatan mampir di gubuk mayaku ini. Jangan khawatir, insyaallah segera saya masukkan. Don’t worry be happy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s