Mudik Bertemu Keluarga di Kampung

Merangkai Rencana

Jauh hari menjelang Ramadhan, saya telah mengagendakan untuk pulang kampung. Tak terasa sudah setengah tahun lamanya tidak pulang ke Pasuruan. Biasanya, setiap kali ada libur panjang, terpikir untuk berkunjung ke rumah, bertemu dengan Ibu-Bapak dan sanak keluarga. Ya, seperti kebiasaan lama waktu masih kuliah dulu. Walaupun, komunikasi tidak pernah putus, namun kurang afdhal rasanya kalau tidak bertemu langsung dengan mereka.

Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, penentuan Idul Fitri masih saja diwarnai dengan perbedaan. Ada yang Sholat Ied di hari Jumat, ada pula yang Sabtu manut dengan ketetapan pemerintah. Entah sampai kapan, perbedaan ini akan terus berlanjut. Saya pikir, apakah tidak lebih baik kita mengikuti ru’yah global, yang menjadikan bumi ini satu matla’. Sehingga jika suatu negeri telah berhasil melihat hilal maka hal ini berlaku juga bagi seluruh negeri-negeri Islam lainnya di dunia. Bukan manut pada matla’ nasionalisme masing-masing dari negeri-negeri Islam, yang terkadang kebijakannya banyak diwarnai dengan kepentingan politik.

Ah, betapa rindunya diri ini, menyaksikan ummat ini kembali bersatu. Tapi bagaimana bisa bersatu, sementara ego-ego nasionalisme masih terus bersemayam? Kita seakan tak punya urusan dengan saudara kita yang ada dibelahan bumi lainnya seperti Palestina, Afganistan, Irak, Chechnya dan lain-lain. Kita tampak selalu abai dan acuh atau bahkan mempersetankan semua itu. Walaupun ada kepedulian, itu pun terkadang hanya sebatas mengelus dada, sambil berucap ”kasihan mereka.” Ya, Khalifah Rasulullah, kami rindu kehadiranmu!

Pada Jumat pagi sekitar pukul 03.45, saya mendapatkan pesan sms dari seorang teman, yang mengatakan kalau hilal telah terlihat di banyak negara di timur tengah seperti Bahrain, Palestina, Saudi Arabia, Libanon, dan Turki. Artinya, Idul Fitri jatuh pada hari itu juga. Setelah membaca dan melakukan kroscek seperlunya, saya memantapkan diri untuk membatalkan puasa, dan segera bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. Saya juga menginformasikan dan meyakinkan hal ini kepada yang lain. Jadilah pada hari itu saya sholat Idul Fitri. Kebetulan juga, teman-teman memberikan amanah kepada saya untuk menjadi imam dan khotib. Tema khutbah Idul Fitri yang saya bawakan ketika itu adalah tentang pentingnya menjalin kesatuan umat dengan kembali kepada syariah dan khilafah.

Awalnya, saya berencana langsung berangkat mudik selepas melaksanakan Sholat Idul Fitri. Namun, ternyata situasi dan kondisinya tidak memungkinkan. Saya baru memutuskan untuk mudik pada Ahad paginya, setelah segala sesuatunya terkondisikan secara baik. Akhirnya, nawaitu saya berangkat mudik.

Dengan menunggangi kuda merah yang saya miliki, saya melaju kencang menyusuri jalanan kota, menempuh rute, Blitar, Malang, dan finish di Pasuruan. Dengan kecepatan yang bervariasi saya pacu kuda merah itu bergerak lincah diantara banyak kendaraan lain yang lalu-lalang. Alhamdulillah, tidak ada rintangan yang menghadang, semuanya lancar. Berangkat jam 08.30 pagi sampai di tempat tujuan sekitar jam 13.00 siang. Cukup melelahkan juga, membuat semua anggota badan terasa pegel linu. Namun begitu, nikmat pegel linu itu terasa mengasyikkan sekali. Karena dengan demikian, saya dapat saling bersendau-gurau dengan istri. Saya masih teringat dengan sabda nabi yang menerangkan bahwa semua sendau-gurau itu sia-sia, kecuali dengan istri dan anak-anaknya. Kesimpulannya, sendau-gurauku itu adalah ibadah, yang insyaallah berpahala. Mengasyikkan bukan?

Setelah tiba

Alhamdulillah, hari itu aku dapat  bertemu dengan kakakku, yang kalau dihitung sudah 2 tahun lamanya kita tidak bertemu. Sebelumnya, kami memang sempat janjian untuk mudik sama-sama ke rumah Ibu, di Kampung Seromo Kulon (salah satu dusun kecil yang masuk wilayah Kejayan, Pasuruan). Datang pertama kali, kami langsung sungkem kepada Bapak dan Ibu. Suatu kebetulan, saya bertemu dengan kak Imbong (panggilan akrab M. Imron) yang telah tiba terlebih dulu. Kedatangannya ke Pasuruan adalah untuk memberi kabar kalau pada Hari Raya Besar (baca: Idul Adha) nanti, akan melangsungkan akad-nikah dengan seorang gadis Gresik, kelahiran Kepanjen, Malang, yang telah berhasil memikat hatinya. Saya sempat berbincang-bincang dengannya sebentar, sebelum beranjak untuk istirahat meregangkan otot-otot dari kepenatan, sehabis melakukan perjalanan yang –saya kira– cukup melelahkan.

Malam harinya lepas maghrib, Rochem, salah satu keponakan Bapak dari Wangsa Asmoeri—yang suatu saat nanti ingin sekali saya tuliskan disini—sempat telpon dan berbincang banyak denganku. Selama itu, ia selalu berhaha-hihi denganku. Ia seorang yang humoris, terkadang banyolannya sampai menyakitkan perut. Saat itu, ia berada di Singapura, karena kapal tempat ia bekerja sedang bersandar di pelabuhan negara tersebut. Ia mengabarkan bahwa sebelumnya ia baru saja singgah di salah satu pelabuhan besar di Australia.

Tak disangka Rochem yang dulunya masih terbilang luntang-lantung, sekarang sudah berubah menjadi pekerja dengan gaji yang terbilang wow tinggi, sangat jauh jika dibandingkan dengan gaji seorang guru yang berijazah strata satu. Ya, Ar Rizqu bi Yadillahi Wahdah.

Ia memang anak yang mudah bergaul dan selalu akrab dengan siapa saja. Selain itu, ia tergolong salah satu saudaraku dari Wangsa Asmuri yang dermawan, walaupun keluarganya bukan termasuk keluarga kaya. Sifat-sifat ini terlihat jelas di masa kecilnya. Ia lebih suka bergaul dengan teman-temannya dari kawula sudra. Meski ia sendiri memiliki banyak teman dari kalangan borju yang berkantong tebal. Mungkin, kehidupan itulah yang menempanya sehingga memiliki sifat welas asih bahkan setelah kesukesannya dapat bekerja di sebuah kapal tongkang milik salah satu perusahaan besar Singapura –yang hingga kini masih menjadi idaman sebagian besar pemuda-pemuda Boyan– dengan gaji yang setara dengan seorang pejabat eselon 1. Gaji pertamanya ia sumbangkan untuk fakir-miskin yang hidup di sekeliling tempat tinggalnya di Bawean (Boyan). Ya, hidup ini memang tak mudah untuk ditebak. Roda kehidupan terus berputar, kadang di atas kadang di bawah.

Mlaku-mlaku

Pagi harinya, saya sempatkan untuk berkunjung ke rumah sanak keluarga di Pasuruan. Seperti nyanyian Kang Ebiet G. Ade ”dari pintu ke pintu” demikianlah yang saya lakukan. Saya ketuk pintu saudara satu-persatu, bersalaman, saling bercerita dan bercanda, mencairkan kangen yang menggumpal di ubun-ubun, yang kemudian lepas membumbung.

Benar sekali ungkapan hadits tentang keutamaan silaturrahmi. Ternyata dari silaturrahmi itu kita banyak mengenal saudara kita. Apalagi saudara jauh yang jarang sekali bertemu dan berinteraksi. Umur panjang yang dimaksudkan dalam hadits tersebut, lebih tepatnya –saya kira– adalah kenangan baik yang tak mudah terlupakan dalam benak masing-masing. Karena umur dalam arti yang sebenarnya tidaklah sepanjang kenangan indah yang terukir apik dan terpatri di hati. Dan semuanya bernilai kebaikan atau amal sholih. Ja’alanaa Allahu Iimaanan Tsaabitaan wa Shaalihan.

Sempat pula, bertemu dengan Mahsun Rosyadi–seorang santri jebolan Sidogiri–yang simpatik, dan kabarnya tak lama lagi akan segera menikah, insyaallah. Lama sudah tidak saling bertemu. Mengobrol sebentar, namun tak lama, karena ia pun tampaknya memiliki urusan sendiri yang lebih mengasyikkan. Sayang, saya belum sempat bertemu dengan Feriq –-adiknya– yang sudah saya anggap seperti adik sendiri. Keduanya adalah putera dari Ust. Shoheih Zein: guru madrasah saya waktu di kampung Seromo dulu. ’Aadatan, kalau bertemu ia sering menyapa saya dengan panggilan ”kang”. Satu kata yang mengingatkan saya akan masa-masa kecil dulu. Kedengarannya enak sekali. Sebuah panggilan sederhana namun penuh dengan keakraban.

Kesempatan saat bersamapun tak banyak saya lewatkan. Diantara waktu yang tersisa saya gunakan untuk bercanda akrab dengan Lia (Wahida Nur Amalia) dan Ferry (Vierry Ardiansyah): dua keponakanku yang lucu-lucu yang kini tampak sudah besar –anak dari adikku Fitria Agustina– Lia berusia sekitar 5 tahun dan Ferry 2,5 tahun. Juga Zidan (Ahmad Zaidan Ardabily) keponakanku, anak dari kakakku–Karyanto–yang kemarin kira-kira berusia 4  tahun.

Ada kisah tersendiri tentang Zidan ini, nama yang disandangnya adalah hasil masukan dari seorang sahabat saya waktu di Nyamplungan, daerah seputar Ampel Surabaya –Arief Delmi– (semoga Allah selalu menaungi hidupnya dengan kebaikan)– yang asli keturunan Banjar. Kalau melihatnya saya teringat akan Arief Delmi. Saya sempat menyodorkan beberapa alternatif, kira-kira dulu 6 nama, yang sudah saya rangkai sebaik mungkin. Namun yang dipilih adalah nama dari hasil masukan teman saya tadi. Kita barangkali sangat familiar dengan dua nama di depan –Ahmad dan Zaidan–, tapi Ardabily, siapa yang tahu? Usut punya usut, nama ini ternyata di nisbahkan kepada Imam Ardabily, yang sangat di kenal dikalangan ulama NU, karena Imam Ardabiliy adalah salah satu ulama yang menjadi anutan dalam khazanah keilmuan ”Fiqih Islam”. Semoga saja kelak ia akan menjelma menjadi seorang Ardabily baru, yang memiliki kemampuan dan kemapanan dalam ilmu agama. Amin.

Kembali pulang

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada kami berdua untuk bertemu dengan keluarga, di hari lebaran 1428 Hijriyah ini.

Setelah dirasa cukup, kami memutuskan untuk segera kembali ke Tulungagung. Pagi sekitar jam 06.30, kami berangkat. Jalan-jalan masih kelihatan sangat sepi. Baru, setelah sampai di kota Malang, jalan-jalan sudah ramai sekali dengan kendaraan. Diantara jejalan kendaraan-kendaraan yang ada, saya memacu kuda merah tunggangan saya dengan kelincahan yang melebihi kuda hitam yang pernah saya tunggangi tempo dulu. Maklum saja, kuda hitam milik Bapak itu sudah sangat uzur, walaupun masih tampak sehat dan menarik.

Kuda merah tunggangan saya itu kadang berlari kencang disertai ringkikan panjang dan dengus yang mendalam. Kadang juga berlari pelan mengikuti arus jalan yang bergelombang. Ritme perjalanan itu seakan menjadi melodi yang mengalun indah sepanjang perjalanan. Melelahkan, namun juga mengasyikkan. Di beberapa tempat kami sempatkan untuk singgah melepaskan kepenatan barang sekejap, seperti Bendungan Karangkates, atau di pinggir jalan yang memiliki pepohonan rindang.

Alhamdulillah, dengan karunia Allah SWT sampai pula kita dengan selamat di rumah. Dan saat melirik jam di HP derijital –salah satu jenis HP yang cukup langka– milikku, waktu telah menunjukkan pukul 11.00 siang. Ya, capek deh! Namun demikian, tidaklah semua itu akan membuat kita jera untuk kembali mudik pada masa-masa berikutnya. Kenapa? Karena nyanyian Kang Ebiet G. Ade ”Aku ingin Pulang” akan kembali terngiang. Dan hal itu akan selalu menggelorakan semangat untuk tetap kembali dan kembali. Wallahu A’lam bish Showab.

Khalid Wahyudin, Oktober 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s