Bulan Spirit Perubahan itu telah Berlalu

Bulan Ramadhan memang telah berlalu. Namun, semangatnya masih sangat terasa hingga kini. Sungguh, bulan ini telah membawa spirit perubahan bagi banyak orang. Ia mampu mengubah persepsi dan perilaku seorang Muslim sedemikian rupa. Orang fasik menjadi malu menampakkan kefasikannya; orang munafik menjadi enggan mempertontonkan kemunafikannya; orang zalim pun mengurangi intensitas kezalimannya. Sebaliknya, orang shalih makin bersemangat menambah amal baiknya lebih daripada bulan-bulan lainnya. Masjid-masjid, majelis taklim, forum-forum kajian keislaman, dan sejenisnya ramai dipenuhi oleh kaum Muslim. Suara-suara ayat suci al-Quran lebih sering terdengar, melenyapkan suara-suara setan yang berbentuk gunjingan, celaan, hasud, fitnah, dan lain-lain. Busana Muslimah menjadi pemandangan sehari-hari dan lumrah, menggantikan jeans ketat, rok mini atau pakaian yang serba terbuka lainnya. Media massa pun tidak ketinggalan—terutama televisi—menayangkan acara-acara yang bernuansa religi, mengurangi tayangan-tayangan yang menjurus pada pornografi dan kekerasan. Begitulah suasana bulan Ramadhan di negeri-negeri Muslim.

Bulan Ramadhan seakan-akan oase di tengah-tengah gurun pasir yang sangat panas, tempat musafir melepaskan penat dan dahaganya. Bulan Ramadhan mampu menciptakan iklim keimanan, suasana kebaikan, dan perasaan yang peka terhadap ajaran-ajaran Islam. Pada bulan ini kaum Muslim mampu bersatu, serentak menunaikan perintah Allah yang berkaitan dengan ibadah shaum; shaum pada hari yang sama, berbuka (‘Id) pada hari yang sama; mampu menahan tidak makan dan minum seharian selama satu bulan penuh; bisa mengendalikan hawa nafsu; sanggup menjalankan ibadah-ibadah nafilah dalam rangka ber-taqarrub kepada Allah; bersedia berkorban lebih besar dan lebih banyak dalam bidang harta benda; dan banyak lagi.

Jika selama bulan Ramadhan kita sanggup menjalankan ketaatan kepada Allah sedemikian rupa, lalu mengapa kita tidak sanggup melaksanakan hal yang sama pada bulan-bulan lainnya? Jika kita mampu menjaga suasana keimanan selama bulan Ramadhan, mengapa suasana yang sama tidak secara sengaja dijaga dan dipelihara agar tetap ada sepanjang tahun? Jika kita mampu mengubah persepsi, perilaku, bahkan suasana di tengah-tengah masyarakat selama bulan Ramadhan, lalu mengapa kita enggan melanjutkan perubahan itu pada bulan-bulan selain Ramadhan? Apakah kita dihisab di depan Allah hanya untuk amal perbuatan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan saja? Jika demikian, apakah hal itu bukan berarti ciri kemunafikan kita belum lagi hilang, bahkan dipertontonkan secara massal selama bulan Ramadhan? Sebab, bulan berikutnya, pasca Ramadhan, kita kembali bergelimang dengan dosa; tidak takut mendemonstrasikan kefasikan, kemunafikan, dan kezaliman; tidak takut kepada (murka dan azab) Allah. Kalau begitu, apa pengaruh bulan Ramadhan bagi kita? Dimana target yang kita harapkan selama bulan Ramadhan, yaitu bertambahnya ketakwaan, padahal ketakwaan itu merupakan ejahwantah dari ketundukan kita pada perintah Allah dan keengganan kita untuk terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan Allah Swt.? Allah Swt. berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183)

Tidakkah kita bercermin pada kehidupan para sahabat Rasulullah saw., sebagai generasi terbaik yang pernah dimiliki umat manusia, bagaimana iklim  keimanan di tengah-tengah mereka pada bulan-bulan selain bulan Ramadhan senantiasa terpelihara sebagaimana halnya pada bulan Ramadhan. Ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya juga bersifat kontinyu dan tidak berubah. Aktivitas sosial, pemerintahan, dan kenegaraan, politik dalam dan luar negeri, dan peperangan selama bulan Ramadhan tidaklah surut.

Simak saja, bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya atau generasi kaum Muslim terdahulu tidak mengendurkan jihad fi sabilillah—apalagi beristirahat selama bulan Ramadhan—dan memfokuskan diri mereka dengan amal-amal ibadah di dalam masjid sebagaimana yang biasa kita lakukan saat ini. Peristiwa-peristiwa sejarah, seperti Perang Badar Kubra, pembebasan kota Makkah (fath Makkah), pertempuran di ‘Ain Jalut melawan tentara Romawi, dan lain-lain, semua itu terjadi pada bulan Ramadhan. Artinya, aktivitas kemasyarakatan dan kenegaraan pada masa Rasulullah saw. dan pada masa Kekhilafahan Islam berlangsung sebagaimana adanya, baik pada bulan Ramadhan maupun selain bulan Ramadhan. Dengan kata lain, suasana dan atmosfir keimanan itu ada sepanjang tahun, bukan hanya pada bulan Ramadhan; seakan-akan sepanjang tahun adalah bulan Ramadhan.

Mengapa bisa demikian? Sebab, para pelaku sejarah itu telah menjadikan Islam sebagai asas bagi seluruh aspek kehidupannya, sistem hukum Islam menjadi pilar dasar seluruh interaksi kehidupan masyarakat dan para pemimpinnya, serta akidah Islam menaungi seluruh kehidupan umat. Pada waktu itu, orang-orang munafik dan fasik merasa malu mempertontonkan kemaksiatan dan kemunafikannya; orang-orang zalim akan menghadapi ketegasan hukum Islam yang dijalankan oleh negara; musuh-musuh Islam dari kalangan kafir pun merasa gentar melakukan permusuhan dan makar melawan daulah Islam dan kaum Muslim.

Jadi, mengapa kita selama bulan Ramadhan mampu menjelma menjadi orang baik-baik lagi shalih, namun enggan melanjutkan perubahan itu pada selain bulan Ramadhan?

Ya, semoga Ramadhan kali ini benar-benar mampu menghadirkan perubahan secara mendasar terhadap seluruh aspek kehidupan kita, baik kehidupan individu maupun kemasyarakatan dan negara. Dengan begitu, shaum kita tidak sia-sia dan kita berhasil meraih derajat taqwa. Rasulullah saw. bersabda:

Jangan-jangan orang yang shaum itu—pada saat puasanya—hanya memperoleh rasa lapar dan dahaga saja; jangan-jangan orang yang bangun malam juga hanya memperoleh ‘begadangnya’ saja. (HR ath-Thabrani).

Khalid Wahyudin, Oktober 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s