Pak Sarpan

Catatan bagi Jiwa Pengabdi

 

Di beranda rumah kontrakannya yang ditumbuhi pohon bambu yang tinggi, saya berbincang-bincang empat mata dengannya. Saya memang ingin menuliskan sedikit catatan tentang dirinya di blog saya ini. Namun, saya tak punya banyak kesempatan untuk beraudiensi. Seringkali direncanakan, namun seringkali pula terlanggar oleh kepentingan lain yang kebetulan saling bertumpuk. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Setelah lama berharap, keinginan itupun akhirnya terkabul. Jadilah saya berbincang banyak dengannya tentang berbagai hal; mulai A sampai Z; mulai awal sampai sekarang. Dan dengan lancar Pak Sarpan menceritakannya satu demi satu.

 

Bersama istrinya tercinta –Bu Partini—laki-laki paruh baya asal Pandean, Dongko, Trenggalek ini, berusaha merajut kisah-kisah indah dalam kehidupannya. Ia dikaruniai 2 orang putri; Sri Indri Lestari, sekarang kuliah di STKIP PGRI Tulungagung dan Devi Andika sari, duduk di bangku kelas 3 SD Islam Al Azhaar.

 

Sekarang, ia memegang amanah baru sebagai driver antar jemput santri Al Azhaar. Sebelumnya, ia sempat bertugas sebagai cleaning servis merangkap sebagai koordinatornya. Mulai mengabdi di lembaga ini (baca al azhaar) sejak tahun 1999 bersamaan saat pembangunan gedung semi permanen SD Islam Al Azhaar.Saat itu, ia masih tinggal di gubuk kecil dengan dinding besek bambu se-ukuran 3 X 4 meter yang dikelilingi kebun salak dan rawa-rawa (sekarang: lokasi masjid).

Termasuk ke dalam golongan teman se-angkatannya adalah Pak Udin (cleaning), Pak Iwan (layanan gizi), dan Pak Eko –sang otodidak—(sekarang, tim anggota TI Al Azhaar).

 

Ibadah sambil kerja

 

Pagi itu, dengan baju hijau tentara yang dikenakannya, Pak Sarpan kelihatan demikian gagah. Dari atas becak –milik layanan gizi yang sudah kelihatan renta– yang dikendarainya, ia menurunkan barang-barang yang memuat menu makanan bagi para santri. Dengan cekatan ia turunkan barang-barang itu satu persatu; menata dan menempatkannya dengan rapi. Ya, demikianlah tugas Pak Sarpan setiap harinya. Selain bertugas sebagai sopir (driver) antar jemput santri-santri Al Azhaar, ia juga membantu layanan gizi dalam mempersiapkan hidangan makan pagi dan siang bagi santri-santri Al Azhaar.

 

Semua tugas itu dilakoninya dengan penuh semangat. Tak sedikitpun kelihatan malas atau aras-arasen. Saya ingat betul, sering ia mengatakan –dalam berbagai kesempatan saat bertemu– ”Ora usah kakean omong, sing penting penggawean beres.” Memang benar, demikianlah seharusnya seorang pengabdi. Karena baginya, tertunaikannya kewajiban menjadi ukuran tersendiri bagi sebuah pengabdian. Mengabdi tidak harus asal-asalan, bukan? Dan bukti tentang hal itu, setiap pekerjaan yang ia lakukan selalu bisa terselesaikan dengan baik. Hal ini menunjukkan dedikasinya yang tinggi terhadap pekerjaan.

 

Andaikata ada pemberian penghargaan ”Pengabdian Award” bagi para wirakarya di lembaga kita ini, maka saya pikir layak menampilkan Pak Sarpan sebagai salah satu kandidatnya. Alasannya sederhana, lelaki paruh baya ini, tercatat dalam sejarah pengabdiannya terbilang cukup lama, termasuk dalam barisan pengabdi angkatan pertama. Dan pula, sejauh yang saya ketahui tak pernah ada catatan buruk yang pernah ia lakukan selama rentang waktu itu. Ia sendiri mengawali pengabdiannya dari menjadi seorang cleaning servis sampai menjadi seorang driver antar jemput santri.

 

Walau ia bukan termasuk tenaga pendidik yang terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran, namun andilnya tak bisa dikatakan kecil. Dalam posisinya saat ini, ia menghadirkan sinergi yang manis bagi sebuah perjalanan seorang pengabdi; dimana semua peran dalam sebuah lembaga pendidikan begitu sangat berarti. Saya seringkali merasa terusik dengan ungkapan-ungkapan pembedaan, yang selayaknya tak perlu lagi diberikan ruang. Karena hal itu, akan memudarkan nilai-nilai kebersamaan, dan lagi, menodai etika basyariah yang hanif.

 

Kesan Pertama

 

Kurang lebih 3 tahun lamanya saat awal kali bertemu pak Sarpan dilembaga ini. Saya seakan sudah lama mengenalnya. Sosok seperti dialah yang kerap saya temui saat di kampung dulu. Sosok yang penuh pengabdian. Bekerja tanpa pamrih, ikhlas walau tanpa piwales. Sosok seperti Wak Kaji Ja’far seorang imam masjid kampung yang istiqomah; Ustadz Acing (baca Nur Hasyim) almarhum –semoga Allah meridloinya–, guru mengajiku dulu di surau sederhana di kampung seberang; Wak Ali, sang muadzin yang selalu setia setiap saat –kayak rexona bahkan lebih dari itu– menjalankankan tugasnya di masjid; atau Pakde Aziz yang saban hari dengan ketekunan membersihkan setiap ruang masjid tanpa mengenal lelah dan ngersulo. Saya seperti menemukan sosok-sosok itu dalam dirinya. Saat menjabat tangannya, saya seperti merasakan ada salju menyejukkan yang mengalir dalam tangan kekarnya. Berlebihan? Tidak, ini tidak berlebihan. Saya benar-benar merasakan aura budi luhur terpancar dalam dirinya. Namun, saya kira itupun belum cukup menyelami pribadi Pak Sarpan yang sesungguhnya. Dugaan saya, mungkin lebih dari apa yang terbersit dalam benak. Nyatanya, Bapak dari 2 orang putri ini, dikalangan rekan-rekan sejawatnya dikenal sebagai sosok pribadi yang menyenangkan; mudah bergaul dan ringan tangan. Rasanya, sekali lagi tidak berlebihan memujinya. Saya yakin sifat andhap ashor yang ia miliki tidak akan membuatnya tinggi hati.

 

Ia bukanlah seorang penulis yang mampu mengungkapkan segala uneg-unegnya dalam sebuah tulisan yang panjang. Tetapi, buah sikap dan teladannya mampu memotivasi orang lain untuk menuliskan visi dan misi hidupnya sepanjang apapun yang ia inginkan. Baginya, berkiprah dalam ranah realita lebih menjanjikan ladang pahala daripada mesti menghamburkan ribuan kata tapi sama sekali tak bernilai, banyak ngibul tapi maksud tak terkabul.

 

Akhirnya…

 

Terkadang saya merasa heran melihat Pak Sarpan yang selalu melewati hari-harinya dengan senyum, apa sih rahasianya? Saat saya tanyakan hal itu, dengan senyum pula ia menjawab, itu rahasia, Pak? Eh, ternyata rahasia, toh. Please dong Pak! Beritahu ya!

 

Bagi sebagian kita, tanpa sadar kadang kita terlena dan asyik bermain ujar-ujar indah penuh janji yang menina-bobokkan tetapi hasilnya nihil. Mending kayak Pak Sarpan, praktis simpel dan tak banyak bicara tetapi hasil karyanya nyata. Kalau boleh jujur, mestinya kita banyak-banyak belajar darinya. Wallahu a’lam bish showab.

 

Khalid Wahyudin, Bumi Pasir, Oktober 2007

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s