Seminar Sejarah Islam

”Pengayaan Materi Pelajaran Sejarah Islam di Indonesia”

Alhamdulillah, tidak kurang dari 300-an peserta yang berasal dari guru sejarah, guru agama, kepala sekolah, penilik sekolah, dari tingkatan SMP/SMU dan Madrasah Tsanawiyah/Aliyah serta masyarakat umum, dengan antusias mengikuti Seminar Sejarah Islam: ”Pengayaan Materi Pelajaran Sejarah Islam di Indonesia”, selasa (18/9) kemarin di Gedung SerbaGuna I Pemda Kab. Bogor Cibinong. Bahkan diantara mereka juga terdapat beberapa orang guru yang non muslim. Acara ini terselenggara atas kerjasama DPD II Hizbut Tahrir Indonesia Kabupaten Bogor dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor dan Kantor Departemen Agama (Kandepag) Kabupaten Bogor.

Para peserta seminar mendapatkan secara gratis makalah 3 pembicara, executive summary tawaran kerjasama kajian pembinaan agama di sekolah dengan tema: ”Membina Siswa Unggul yang Bertaqwa”, VCD Sejarah Islam di Indonesia serta sertifikat/piagam dari Panitia yang ditanda tangani 3 instansi: HTI, Disdik dan Kandepag.

Media massa harian Radar Bogor meliput acara besar ini, dan menuangkan reportasenya dua kali (Senin dan Kamis). Semoga menjadi syiar kepada masyarakat.

Sambutan pertama diberikan Ketua DPD II HTI Kab Bogor, Ustadz Aan Sufyan. Pengayaan materi sejarah Islam di Indonesia, penting untuk diajarkan kepada anak didik.

Sambutan kedua disampaikan Wakil Kepala Dinas Pendidikan Kab Bogor, Bapak Dedi Supriyadi yang mengucapkan terimakasih kepada HTI atas upaya pengayaan materi pelajaran sejarah, semoga dinilai sebagai ibadah.

Sambutan ketiga, disampaikan Pengawas Kantor Depag Kab Bogor Drs. Ganjar. Kandepag menyambut gembira dan mendukung kegiatan seminar ini. Kandepag berharap acara ini dapat memberikan pencerahan sejarah Islam di Indonesia, yang sampai sekarang masih ada perbedaan pandangan.

Pembicara pertama, Prof. Dr. H. Uka Tjandrasasmita (Dosen Fakultas Adab dan Humaniora Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), membahas tiga asas pokok. Pertama, kedatangan Islam ke Indonesia dan proses penyebarannya. Kedua, pertumbuhan dan perkembangan kesultanan-kesultanan di nusantara. Ketiga, kesimpulan dan upaya menumbuhkan citra kejayaan Islam.Teori bahwa Islam masuk Indonesia baru abad 13 adalah lemah, yang benar setelah diteliti adalah abad 1 H atau 7 M, langsung dari Arabia. Mulanya penyebaran Islam melalui perdagangan international, selanjutnya penyebarannya secara mendalam dilakukan oleh para da’i dan wali.

Pembicara kedua, Drs. Maman Kh, MSc (Dosen UIN), ternyata berhalangan hadir. Tetapi Beliau telah menyampaikan kepada panitia, makalahnya yang berjudul Rekonstruksi Sejarah.

Pembicara ketiga, Ir. Rahmat Kurnia, MSi (Ketua Lajnah Siyasiyyah Hizbut Tahrir Indonesia) menyampaikan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah perjuangan Syariah Islam. Awal masuk Islam ke Indonesia pada abad 7 M atau 1 H secara perorangan, salah satu buktinya adalah Raja Sriwijaya Jambi Srindravarman pada 720 M. Sementara Islam mulai menguasai institusi politik dengan munculnya kesultanan Peureulak pada masa Abbasiyah (750-1258 M). Kemudian dakwah Islam besar-besaran dimulai dari Pasai (abad 13-15 M) dengan target politis. Muncul utusan dari Khilafah tahun 1404 M, dakwah walisongo di Jawa 1436 M.

Hingga kemerdekaan Indonesia pun tetap diwarnai dengan perjuangan penegakkan Syariat Islam dengan adanya ketetapan Pemerintah wajib menjalankan Syariat Islam bagi umat Islam saja, tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi tujuh kata ”dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,” dalam Piagam Jakarta tgl 18 Agustus 1945 kemudian dihapus. Jadi hanya berumur satu hari saja.

Kesimpulannya, karena sejarah Indonesia adalah sejarah perjuangan penegakan syariah, maka menentang perjuangan penegakkan syariah adalah suatu tindakan yang ahistoris. Insya Allah kemenangan Syariat Islam dan Khilafah akan segera datang.

Dalam sesi tanya jawab yang diatur oleh moderator (Didik Suhemanto, S.Si) mayoritas peserta setuju terhadap upaya pelurusan sejarah Islam di Indonesia dan di Timur Tengah juga. Mereka juga berharap bahwa hasil seminar ini dapat ditindak lanjuti kepada instansi terkait dan menyarankan agar diterbitkan buku revisi sejarah yang komprehensif. Mereka sangat berharap agar kegiatan seminar sejarah ini dapat dilaksanakan kembali secara berkala dengan mengundang para tokoh masyarakat lain serta para pelajar itu sendiri.

Prof. Uka menegaskan bahwa pertama kali dakwah Islam di Indonesia langsung dari Arabia. Bahkan dikemudian waktu ada yang datang dari persia dan gujarat ini dengan sendirinya ada karena Indonesia adalah jalur perdagangan internastional. Berdasarkan bukti bukti yang Beliau teliti, Islam masuk di Indonesia pertama kali abad 7 M atau 1 H.

Pakar sejarah di Universitas Indonesia ini menegaskan peran para ulama dalam perjuangan kemerdekaan. Yang mendampingi para sultan juga ulama, mereka lah yang memberikan pertimbangan kepada para sultan. Soal walisongo itu jumlahnya memang sembilan karena ini masalah kesucian/holistik. Tetapi nama-namanya berbeda-beda. Soal penyusunan sejarah itu bisa subyektif bisa juga obyektif meski berdasarkan data. Analisanya bisa subyektif, umumnya Barat itu memutarbalikkan. Peran umat Islam ditiadakan. Ini memang khas Barat sentris.

Sementara Ustadz Rahmat Kurnia menjelaskan bahwa pemutarbalikkan sejarah itu adalah keniscayaan. Sejarah yang sampai kepada kita adalah bukan fakta, tetapi persepsi dan analisa penulisnya. Disitu ada the second hand reality.  Karena itu saya tidak menyarankan mengambil keyakinan sejarah yang ditulis orang-orang barat non muslim, kecuali hanya mengambil faktanya sebagai referensi saja.Sejarah itu bukan sumber hukum. Sejarah tidak selalu benar. Sejarah adalah fakta dan bukan selalu benar. Kalau fakta sejarah keliru, jangan lagi kita tiru. Tidak benar dalam sejarah Islam, bukan berarti Islamnya yang keliru.

Perlu edukasi untuk menegakkan Syariah Islam dan Khilafah. Sama halnya dengan muslim tak sholat. Ustadz Ir. Rahmat Kurnia menjelaskan bahwa sejarah harus ada aplikasinya, salah satunya dengan mencerap nilai-nilai/ruh-nya. Ruh sejarah Indonesia adalah ruh perjuangan, ruh persatuan, ruh penegakkan syariah Islam.

Sebagai penghargaan panitia memberikan plakat kenang-kenangan kepada wakil dari Disdik, Kandepag, dan para pembicara. Semoga kerjasama ini dapat terjalin lebih erat di masa mendatang. Amiin.

[Kantor Humas DPD II HTI Kabupaten Bogor]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s