Entah Sampai Kapan…

Entah sampai kapan kita akan terpuruk dalam kenistaan, penindasan dan ketidakberdayaan. Darah merah bercampur tangis yang menggetarkan isi langit, tak jua membuat ummat ini terbangun dari mimpi panjangnya yang menjemukan. Apakah khayalan fatamorgana dari gulali-gulali dunia, benar-benar telah membuatnya mabuk dan tak sadar dengan apa yang telah diperbuatnya? Ataukah jeruji-jeruji nasionalisme telah sungguh-sungguh membutakan matahatinya? Ataukah memang ummat ini menanti sampai airmata deras dari mata keriput seorang nenek dan mata sayu bocah-bocah alit tak berdosa menenggelamkan tanah-tanah Palestina, Afganistan, Irak, dan negeri-negeri Islam yang tertindas lainnya? Sehingga tak akan terdengar lagi tangisan itu, dan tak dibutuhkan lagi pertolongan. Tangisan dan jeritan itupun tak lagi mengusik tidur kita, atau mengganggu kita saat bercanda bersama keluarga, tak lagi memalingkan kita dari menikmati secangkir kopi manis di atas meja, atau tayangan-tayangan hedonis yang menjual mimpi-mimpi. Lalu  bagaimana kita berdiri di hadapan Allah di hari kiamat nanti, saat mereka mengadu? Bagaimana, bagaimana? Wailul Lilmuslimin. Maadaa Taf’aluun? 

Bukankah bumi ini adalah milik Allah. Bumi yang telah diamanahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menjaganya dari keserakahan, kebuasaan dan kebiadaban manusia-manusia berhati serigala. Tetapi mengapa kita masih berfikir bumi Palestina, Irak, Afganistan atau negeri-negeri Islam lainnya adalah bumi mereka, bukan bumi kita. Sehingga kita tidak merasa memiliki dan bersaudara dengan mereka yang mendiami serta hidup di atasnya. Limaadza ? Limaadza? Ara’aytahum? 

Entah bagaimana andai Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khattab atau bahkan Umar bin Abdul Aziz masih hidup, dan menyaksikan ummat ini dengan keadaannya yang sangat menyedihkan seperti saat ini? Bukankah mereka tidak akan merasakan tidur nyenyak dengan kelaparan yang diderita seorang rakyatnya, tangis dari seorang anak yatim, atau rintihan rakyat kecil yang miskin papa? Bukankah mereka merasakan ketakutan yang luar biasa? Takut, takut, takut kalau mereka dianggap oleh Allah sebagai pemimpin yang telah mengabaikan amanah kekuasaan yang dipikulkan di atas pundaknya, dengan menelantarkan rakyatnya atau mungkin mendzaliminya. 

Lalu bagaimana sekarang? Tak hanya satu atau dua orang, puluhan atau ratusan, bahkan jutaan orang Islam telah menjadi korban napsu-napsu binatang para pemuja berhala kapitalisme. Dimanakah izzah ummat ini? Manakah khairo ummat itu? Ooh…Wa Mu’tashimah… Wa Mu’tashimah! Katakan! Sudah tak ada lagi jalan…tak ada lagi…tak ada lagi. Laa ‘Izzata illa bil Islam. Walaa Islama illa bisy Syariah. Walaa Syariata illa bid Daulah Khilafah Rasyidah.  Allahu Akbar!!… Allahu Akbar!!… Allahu Akbar!!   

Al Khilaafah Sabiil Al Kholas!!!  

Khalid Wahyudin   

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s